21 November 2008

Beragama dengan Cerdas

Akidah Islam memandang manusia sebagai makhluk yang mulia. “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”.[1]

Manusia adalah khalifah Allah di muka bumi yang memiliki kelayakan untuk mencapai derajat yang tinggi. Allah berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan-Mu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.[2]

Di samping manusia memiliki kelayakan di atas, ia juga bisa menyamai kedudukan binatang. Allah berfirman: “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi ia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya, ia mengulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, ia mengulurkan lidahnya (juga)”.[3]

Lebih dari itu, ia bisa sejajar dengan benda mati. Allah berfirman: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”.[4]

Atas dasar itu, akidah Islam memperhatikan kedua faktor kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia itu.

Alquran memandang manusia sebagai makhluk yang lemah, gelisah (keluh kesah), tergesa-gesa, condong melampaui batas, lalim dan bodoh.[5]

Atas dasar itu, Islam tidak memaksanya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban berat yang melampui batas kemampuannya, baik secara lahiriah mapun batiniah. Allah berfirman:

لاَيُكَـلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

(Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).[6]

Rasulullah saww bersabda : “Ada sembilan perkara yang dimaafkan atas umatku: kesalahan (yang tidak disengaja), kelupaan, sesuatu yang dipaksakan kepada mereka (untuk mengerjakannya), sesuatu yang mereka tidak tahu, sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan, sesuatu yang mereka terpaksa melakukannya, hasud, kegegabahan (kurang hati-hati) dan merenungkan ciptaan semesta dengan disertai keraguan selama mereka belum mengungkapkannya dengan perkataan”.[7]

Dalam hadis yang lain beliau bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

(Tiga orang terbebaskan dari kewajiban: orang gila hingga ia sembuh, orang tidur hingga ia bangun dan anak kecil hingga ia dewasa).[8]

Dengan demikian akidah Islam menganggap bahwa faktor-faktor kelemahan yang terdapat dalam dalam diri manusia adalah satu hal yang lumrah dan muncul bersama penciptaannya sebagai manusia, bukan satu realita yang dapat membasmi kebebasan memilih dan kemampuannya untuk membentuk diri dan bergerak leluasa.

Oleh sebab itu, karena akidah Islam ingin membina manusia yang sempurna, maka ia berusaha untuk menfokuskan perhatian manusia terhadap sisi positif dari keberadaannya (dan melupakannya dari faktor kelemahan yang dimilikinya).

Kesalahan bukan Karakter Inheren Manusia

Dari sisi lain, akidah Islam memandang kesalahan bukan karakter inheren manusia. Kesalahan adalah sebuah realita yang berada di luar diri manusia. Oleh karena itu, ketika manusia jatuh ke dalam jurang kesalahan, ia tidak akan berubah menjadi syetan yang tidak mungkin menjadi manusia kembali. Akan tetapi, ia tetap menyandang gelar manusia, manusia yang bersalah, dan pintu taubat masih terbuka lebar baginya guna memperbaiki kesalahannya itu.

Ini adalah rahasia pandangan Islam yang agung terhadap manusia. Islam tidak menakut-takutinya dengan teori keinherenan kesalahan, sebagaimana yang diyakini oleh para pemeluk agama Kristen. Islam selalu berusaha untuk mengeluarkan manusia dari lembah kesalahan, mendorongnnya untuk selalu mengangkat nilai dirinya dan mengingatkannya akan luasnya ampunan dan rahmat Allah sehingga ia tidak putus asa darinya.

Di dalam Islam tidak terdapat “kursi pengakuan dosa”, sebagaimana yang terdapat dalam ajaran umat Kristen. Sebaliknya, ulama Islam selalu menganjurkan kepada kita untuk menutupi aib dan dosa-dosa orang lain sebisa mungkin, karena Allah SWT menyukai hal itu.

Al-Ashbagh bin Nabatah berkata: “Seseorang datang kepada Amirul Mukminin a.s. seraya berkata: `Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku telah berzina, maka sucikanlah diriku ini`. Amirul Mukminin a.s. berpaling darinya, kemudian berkata kepadanya: `Duduklah!` Setelah itu beliau menghadap kepada hadirin seraya berkata : `Ketika salah seorang dari kalian mengerjakan kejelekan ini (zina), apakah ia tidak mampu untuk merahasiakan perbuatan tersebut sebagaimana Allah telah merahasiakannya?`[9]

Manusia adalah Makhluk Mulia

Akidah Islam memandang manusia sebagai makhluk mulia yang memiliki kedudukan penting di jagad raya ini. Hal ini dapat diketahui dari kepercayaan Allah kepadanya untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini. Oleh karena itu, selayaknya ia melaksanakan tugas tersebut sebaik-baiknya dan bersyukur kepada-Nya atas anugerah agung dan hidayah memeluk agama yang benar ini.

Seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin a.s.: “Mengapa anda cinta untuk bertemu Allah?” Beliau menjawab: “Tatkala aku melihat bahwa Ia telah menganugerahkan kepadaku agama para malaikat, rasul, dan nabi-Nya, aku tahu bahwa Dzat yang telah memuliakanku dengan agama ini, tidak akan melupakanku. Oleh karena itu, aku rindu untuk menjumpai-Nya”.[10]

Poin-poin Pembebasan

Akidah Islam telah berhasil membebaskan manusia melalui beberapa poin di bawah ini:

Pertama, akidah Islam telah berhasil membebaskan manusi dari penindasan politik. Islam tidak merestui seseorang menindas sesamanya atau satu golongan menghina golongan yang lain.

Sepanjang sejarah, Islam adalah faktor utama bagi munculnya gerakan-gerakan kemerdekaan dan kebebasan. Bagaimanapun pandangan seseorang terhadap agama, ia tidak akan dapat melupakan faktor agamis dan pengaruhnya dalam memunculkan kesadaran revolusioner (al-wa’y al-tsauri) sepanjang sejarah Islam. Pemberontakan Abu Dzar r.a. dan revolusi Imam Husein a.s. (terhadap rezim berkuasa kala itu) tidak lain adalah satu titik tolak kesadaran umat untuk meluruskan penyelewengan-penyelewengan yang menimpa sejarah Islam. Betapapun banyaknya penyelewengan yang telah menimpa muslimin sepanjang sejarah, akan tetapi hal itu tidak mampu membasmi semangat revolusioner para pemeluk agama suci ini yang senantiasa berusaha memulihkan kembali agama tersebut (sehingga dapat berkiprah dalam kehidupan sehari-hari), membasmi kezaliman dan menjunjung tinggi hak-hak dan kehormatan seorang muslim.[11]

Di samping missi pembebasan di atas, akidah Islam juga telah berhasil membebaskan manusia dari kebiasaan menuhankan manusia yang lain, seperti pemujaan dan penyembahan raja dan kabilah-kabilah yang berkuasa. Hal ini adalah sebuah tradisi yang berlaku di kalangan sebagian umat-umat terdahulu, seperti penduduk Mesir kuno.

Begitu juga Islam telah berhasil melenyapkan sistem pembedaan suku umat manusia, baik yang dilandasi dengan keturunan, bahasa, warna kulit, harta atau kekuatan. Tolok ukur keutamaan dalam Islam terbatas pada karakter-karakter spiritual, yaitu taqwa dan fadhilah.

Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal).[12]

Islam telah mengumandangkan semboyan kemerdekaan dan kebebasan dua puluh abad sebelum revolusi Perancis muncul.

Amirul Mukminin, Ali a.s. berkata di dalam sebuah khotbahnya:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ آدَمَ لَمْ يَلِدْ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً، وَإِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَحْرَارٌ ...

(Wahai manusia, sesungguhnya Adam tidak melahirkan budak dan sahaya. Dan sesungguhnya seluruh manusia adalah merdeka).[13]

Hanya saja, Islam tidak memberikan kebebasan mutlak kepada manusia. Karena hal itu akan menyebabkan manusia bebas berbuat sesuka hatinya. Islam menentukan batasan-batasan yang jelas bagi kebebasan tersebut sehingga tidak terjadi kekacauan.

Dari sini, tampak jelas perbedaan antara akidah Islam yang mengikat kebebasan manusia dengan penghambaan kepada Allah, tunduk dan taat terhadap kekuasaan-Nya (kebebasan terikat) dan undang-undang hasil rekayasa manusia (al-qanun al-wadl’i) yang (dengan kebebasan mutlak yang diberikan kepadanya) ia telah menjerumuskan manusia ke dalam jurang kebingungan yang tidak sejalan dengan kemampuan dan tuntutan ciptaannya.

Harus ada keseimbangan antara kebebasan dan penghambaan. Dan hal tersebut hanya dapat kita temukan di dalam Islam;penghambaan kepada Allah dan bebas dari penghambaan kepada selain-Nya. (Dalam pandangan Islam), kebebasan seorang hamba tidak mungkin sempurna kecuali dengan penghambaan kepada Allah, dan penghambaannya kepada Allah tidak mungkin sempurna jika ia tidak membebaskan diri dari menghamba kepada selain-Nya.

Dari teori kebebasan semacam ini, terwujudlah keseimbangan dan keserasian antara sisi sosial dan sisi iman seorang muslim.[14]

Dengan ini, akidah Islam menganggap penghambaan kepada Allah SWT semata sebagai inti kebebasan yang hakiki. Hal ini dikarenakan penyembahan kepada Allah adalah pembebasan diri dari seluruh kekuasaan orang-orang lalim. (Dan perlu diingat), penghambaan kepada Allah bukanlah penghinaan bagi harga diri manusia. Akan tetapi sebaliknya, penghambaan tersebut akan lebih memuliakan harga diri dan memelihara kedudukannya.

Rasulullah saww berbangga diri karena beliau adalah hamba Allah dan menolak sikap pengkultusan berlebihan (ghuluw) yang terkadang bisa menjerumuskan seseorang menuhankan beliau, sebagaimana pernah dilakukan oleh Ahli Kitab terhadap para nabi mereka, meskipun Allah telah mengancam mereka untuk tidak mengkultuskan para nabi mereka.

Allah SWT berfirman: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih Isa, putra Maryam itu adalah utusan Allah, Kalimah-Nya yang Ia anugerahkan kepada Maryam dan ‘ruh’ dari-Nya”.[15]

Sesungguhnya mazhab Ahlul Bayt a.s. dalam rangka memerangi (orang-orang yang) menuhankan manusia, menekankan pentingnya penghambaan (kepada Allah dalam ucapan-ucapan mereka).

Amirul Mukminin a.s. berkata: “Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasul-Nya”.[16]

Imam Ridla a.s. juga berkata: “Aku bangga dengan beribadah (menghamba) kepada Allah”.[17]

Hal itu dikarenakan tipe pemikiran semacam itu telah berkembang di kalangan umat-umat yang lain dan berhasil merasuk ke dalam lingkungan para pengikut agama-agama langit yang lain. Sebagai contoh, para pemeluk agama Kristen meyakini Almasih sebagai tuhan dan para pemeluk agama Yahudi menganggap ‘Uzair adalah putra Allah.

Dari sini nampaklah hikmah dan kejituan sikap Imam Ali a.s. ketika beliau menekankan karakter penghambaan dan menentang seluruh propaganda kaum Ghulat yang menuhankan beliau. Dalam sebuah hadis, datang sekelompok kaum mendatangi Amirul Mukminin as seraya berkata:

"اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَبَّنَا"

(Salam sejahtera bagimu, wahai Tuhan kami). Beliau menyuruh mereka supaya bertaubat. Akan tetapi mereka membangkang. Lalu beliau menggali sebuah lobang dan menyalakan api di dalam lobang tersebut. Selanjutnya beliau menggali sebuah lobang lagi di sampingnya dan menyalakan api di dalamnya. Ketika mereka enggan bertaubat, beliau melemparkan mereka ke dalam kedua lobang tersebut hingga mereka mati.[18]

Dalam kesempatan yang lain beliau berkata:

هَلَكَ ِفيَّ رَجُلاَنِ : مُحِبٌّ غَالٍ وَمُبْغِضٌ قَالٍ

(Dua orang celaka ketika menanggapi diriku: orang yang cinta kepadaku secara berlebihan (Ghulat) dan orang yang membenciku).[19]

Kedua, akidah Islam dengan mengikat hati insan muslim dengan tali Allah dan alam akherat, telah berhasil membebaskannya dari jeratan hawa nafsunya.

Hawa nafsu - menurut pandangan Ahlul Bayt a.s. - adalah titik ketergelinciran yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, mereka lebih banyak mencurahkan perhatian mereka terhadap satu titik berbahaya ini. Akidah Islam telah membekali akal seorang muslim dengan alat kontrol istimewa yang dapat mencegahnya dari penyelewengan atau lebih mementingkan dunia yang fana atas akherat yang abadi (sebagai akibat dari mengikuti ajakan hawa nafsu).

Atas dasar itu, kita dapati perkataan, hikmah dan nasehat-nasehat Amirul Mukminin a.s. banyak berhubung-an dengan masalah hawa nafsu dan pentingnya kita menguasainya. Beliau selalu aktif menggunakan setiap kesempatan untuk membahas masalah itu, karena hawa nafsu adalah satu poin penting yang harus diperhatikan dalam pembinaan manusia.

Alquran telah mengingatkan kita bahwa “Sesungguh-nya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.[20]

Atas dasar ini, satu hal yang menarik kita perhatikan, pada masa pemerintahannya, Imam Ali a.s. senantiasa berwasiat kepada para panglima perang dan gubenur beliau atas daerah-daerah kekuasaannya agar mereka menguasai jiwa dan hawa nafsu mereka. Hal ini selalu beliau lakukan meskipun beliau telah menyeleksi mereka secara cermat, dan mereka adalah pribadi-pribadi ideal yang memiliki budi pekerti luhur dan akhlak yang mulia.

Ketika beliau mengangkat Malik Al-Asytar menjadi gubernur Mesir, beliau berpesan kepadanya dalam sebuah suratnya: “Perintah ini dikeluarkan oleh seorang hamba Allah, Ali bin Abi Thalib untuk Malik bin Harits Al-Asytar... Ia memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati-Nya... Ia juga memerintahkannya agar mengalahkan hawa nafsunya..., karena hawa nafsu itu selalu mendorong (manusia) untuk mengerjakan kejelekan kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah. Kendalikan dan kekanglah hawa nafsumu dari hal-hal yang tidak dihalalkan bagimu. Dan cara untuk mengendalikannya adalah (kamu) harus selalu mengontrolnya agar ia tidak mengerjakan setiap yang disukainya atau enggan mengerjakan setiap yang dibencinya. Dan kasihanilah rakyatmu”.[21]

Di antara wasiat-wasiat Imam Ali a.s. kepada Syuraih bin Hani`, salah seorang komandan pasukan beliau ketika beliau mengirim pasukan perang ke Syam (Syiria): “Ketahuilah, jika kamu tidak bisa mengekang hawa nafsumu dari setiap apa yang kamu sukai karena kamu takut akan terjadi hal-hal yang tidak kamu sukai (jika kamu mengekang hawa nafsumu itu), niscaya hawa nafsu tersebut akan menggiringmu ke arah bahaya yang lebih besar. Oleh karena itu, kekang dan kendalikanlah hawa nafsumu”.[22]

Dalam sebuah surat kepada Mu’awiyah, beliau membongkar rahasia pembelotannya dari kepemimpinan Islam yang disebabkan oleh rayuan dan bujukan hawa nafsunya. Beliau berkata: “Sesungguhnya hawa nafsumu telah memaksamu untuk bertindak jahat dan lalim, menjerumuskanmu ke dalam jurang kebinasaan dan mencemarkan jalan yang kamu tempuh”.[23]

Atas dasar itu, penyelewengan hawa nafsu memiliki resiko besar, khususnya bagi orang-orang yang memegang tampuk kepemimpinan dan mereka tidak memiliki kelayakan untuk itu.

Ahlul Bayt a.s., meskipun mereka memiliki ‘ishmah yang mampu menjaga mereka dari berbuat salah, masih selalu memohon pertolongan dari Allah SWT supaya dapat menguasai hawa nafsu mereka. Hal ini selayaknya kita jadikan pelajaran bagi diri kita. Dalam sebuah doa Imam Zainal Abidin a.s. berkata: “Lemahkanlah kekuatan kami sehingga ia tidak dapat mengerjakan hal-hal yang menyebabkan murka-Mu, dan dalam hal ini, janganlah Kau biarkan hawa nafsu kami mengerjakan setiap yang disukainya. Karena ia akan selalu memilih yang batil, kecuali hawa nafsu yang Kau beri petunjuk, dan memerintahkan kepada kejelekan kecuali hawa nafsu yang Kau karuniai rahmat”.[24]

Kesimpulannya, pembinaan manusia tidak akan sempurna kecuali jika disertai dengan penguasaan atas hawa nafsu. Hali ini akan kita bahas lebih lanjut.

Ketiga, akidah Islam telah berhasil membebaskan manusia dari menyembah alam, mengkultuskan dan takut atas fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَتَسْجُدُوْا للِشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ

(Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya adalah malam, siang, matahari dan rembulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan bulan).[25]

Manusia pernah bingung dan takjub menghadapi fenomena-fenomena alam yang luar biasa ini. Ia tidak mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik keluarbiasaan itu. Oleh karena itu, ia mengkultuskannya dan mengajukan binatang-binatang korban yang berlimpah untuknya dengan harapan ia akan aman dari lahar-lahar gunung berapinya yang berkobar, gempanya yang memporak-porandakan (setiap yang terdapat di muka bumi ini), banjirnya yang dahsyat dan petir-petir apinya yang siap menghanguskan (setiap yang disentuhnya). Maka datanglah akidah menyingkap tabir-tabir yang menyelimuti akalnya dan membuka jalan di hadapannya lebar-lebar supaya ia memfungsikan alam ini semaksimal mungkin dan hidup damai berdampingan dengannya. Dengan ini, nyatalah baginya bahwa alam semesta ini dan segala ciptaan yang ada di dalamnya diciptakan oleh Allah SWT demi kepentingan manusia. Dan tugas utamanya adalah memanfaatkannya dan merenungkan asal-usulnya sehingga dengan cara itu ia dapat menemukan Khaliqnya.

Allah SWT berfirman:

أَفَلاَيَنْظُرُوْنَ إِلَـى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ | وَإِلَـى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ | وَإِلَـى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ | وَإِلَـى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

(Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bagaimana bumi dihamparkan?).[26]

Perlu diketahui bahwa metode akidah Islam dalam membina manusia adalah metode yang universal dan mencakup semua sisi kehidupan manusia (manhaj syumuli), baik yang berhubungan dengan diri, Tuhan dan alam sekitarnya. Ketika manusia memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhannya, hal itu akan berdampak positif terhadap sikapnya dalam menanggapi alam sekitarnya. Dengan ini ia akan merasa tenang dan tentram hidup di dalamnya.

Ketika kaum Nabi Hud a.s. ditimpa paceklik selama tiga tahun karena pengingkaran mereka atas ajakan beliau, beliau menganjurkan mereka untuk minta ampun kepada Tuhan dan bertaubat kepada-Nya atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan dengan jalan memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya. Dengan itu, alam berdamai dengan mereka dan menurunkan hujan dan berkah. Nabi Hud a.s. - seperti disinnyalir oleh Alquran -berkata kepada mereka:

يَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبـَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوُّةً إِلَـى قُوُّتِكُمْ وَلاَتَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ

(Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa).[27]

Atas dasar ini, ibadah yang sejati hendaknya dilakukan hanya karena Allah semata, dan kita harus takut akan dosa-dosa yang menyebabkan murka dan pembalasan-Nya. Karena Allah ketika murka, Ia dengan mudah akan menggunakan kekuatan alam ini sebagai sarana untuk menyiksa manusia, sebagaimana Ia telah menenggelamkan Fir’aun ke dalam lautan dan mengirim badai yang memporak-porandakan kaum ‘Aad. Begitu juga mayoritas siksaan yang telah menimpa orang-orang kafir terjadi melalui kekuatan alam. Hal ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara manusia dan alam.

Berkenaan dengan hal di atas Imam Al-Baqir a.s. berkata: “Kami dapatkan dalam kitab Rasulullah saww, `jika mereka enggan membayar zakat, maka tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan tambang akan dicabut dari bumi`”.[28]

Imam Ja’far As-Shadiq, putra beliau a.s. juga pernah berkata:

إِذَا فَشَا الزِّنَا ظَهَرَتِ الزَّلاَزِلَ، وَإِذَا أُمْسِكَتِ الزَّكَاةُ هَلَكَتِ الْمَاشِيَةُ، وَإِذَا جَارَ الْحُكَّامُ فِي الْقَضَاءِ أُمْسِكَ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ

(Jika perzinaan telah memasyarakat, maka akan muncullah gempa dan bencana alam, jika zakat tidak dikeluarkan, niscaya akan binasalah seluruh binatang melata dan bila para penguasa telah berlaku curang dan lalim dalam memutuskan suatu perkara, niscaya air hujan tidak akan turun dari langit).[29]

Ringkasnya, hendaknya manusia hanya takut akan dosa dan kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan kehancuran masyarakat dan terangkatnya berkah. Adapun jika ia takut terhadap alam dan meyakini bahwa sebagian fenomena-fenomenanya adalah suatu kejelekan yang tidak sesuai dengan aturan alam dan hikmah aturan tersebut, hal ini sebenarnya muncul dari pandangannya yang sempit terhadap masalah-masalah ini. Jika ia memandang peristiwa-peristiwa itu dengan kaca mata undang-undang alam yang universal, niscaya ia akan mengakui bahwa hal itu adalah kebaikan mutlak.

Betul, kali pertama peristiwa-peristiwa itu tampak merugikan. Akan tetapi orang yang mau merenungi peristiwa-peristiwa tersebut, ia akan memahami bahwa peristiwa-peristiwa itu adalah kebaikan dan kemaslahatan mutlak yang sarat dengan hikmah, keadilan dan terjadi atas dasar undang-undang yang jitu. Pembahasan berkenaan dengan hikmah-hikmah musibah dan bala` ini dapat anda telaah lebih cermat lagi dalam ilmu Teologi. Akan tetapi, yang perlu kami tekankan di sini, akidah Islam telah berhasil merubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya, hal yang dapat memberikan kebebasan kepadanya, dan dengan itu ia dapat lebih leluasa berinnteraksi dan bersahabat dengannya.

Keempat, akidah Islam telah berhasil membebaskan manusia dari keyakinan dan perilaku yang sarat dengan cerita-cerita bohong dan tahayul. Hal ini bertujuan untuk membasmi tabir-tabir hayalan yang bersemayam di dalam akalnya yang dapat menonaktifkan fungsi akal tersebut.

Sebagai contoh, penduduk Arab Jahiliah mempercayai nasib baik dan buruk melalui gerakan burung. Ketika mereka melihat burung bergerak menuju ke arah kanan, mereka mulai bekerja dan ketika mereka melihatnya bergerak menuju ke arah kiri, mereka berhenti dari pekerjaan tersebut. Para ahli sihir dan ilmu Nujum, pada saat itu juga menempati posisi terpenting di kalangan masyarakat dan dengan mengaku mengetahui alam ghaib, mereka tega menipu penduduk yang hidup di dalam masyarakat tersebut.

Di samping itu, meramal nasib adalah salah satu kebiasaan yang memegang peranan penting dalam praktek hidup mereka sehari-sehari. Dan kadang-kadang kepercayaan ini menjadikan mereka malas berusaha.

Begitu juga kebiasaan menentukan nasib dengan dengan anak panah (al-istqsaam bil azlaam) adalah salah satu kebiasaan yang diyakini oleh penduduk Arab Jahiliah. Seseorang yang ingin mengerjakan sebuah pekerjaan, ia mengambil tiga anak panah, kemudian ia menulis kata “إِفْعَلْ” (kerjakan) pada anak panah pertama dan kata لاَتَفْعَلْ”“ (jangan kerjakan) pada anak panah yang kedua. Sementara anak panah yang ketiga ia biarkan kosong. Selanjutnya ia merogohkan tangannya untuk mengambil salah satu dari ketiga anak panah tersebut. Jika anak panah pertama yang keluar, ia akan memulai pekerjaannya, jika anak panah kedua yang keluar, ia akan membatalkan pekerjaan tersebut dan jika anak panah ketiga yang keluar, ia mengulangi pemilihan sekali lagi.

Sihir adalah salah satu kebiasaan lain yang juga memasyarakat kala itu. Sihir tersebut digunakan untuk menjaga diri dari kejahatan dan kejelekan.

Di saat kebiasaan-kebiasaan itu menguasai kehidupan masyarakat kala itu, datanglah akidah Islam dan berusaha untuk memerangi kebiasaan-kebiasaan tersebut. Akhirnya akidah itu berhasil membuka akal, menjunjung tinggi jiwa dan mengeluarkan mereka dari jurang gelap hayal menuju dunia ilmu dan realita.

Rasulullah saww bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلاَ مَنْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ

(Tidak termasuk golongan kami orang yang meramal (nasib) dan orang yang minta diramal, orang yang melaksanakan praktek dukun dan orang yang meminta untuk didukuni atau orang yang menggunakan praktek sihir dan orang yang memohon darinya untuk melakukan hal itu demi kepentingannya).[30]

Dalam kesempatan yang lain beliau juga pernah bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

(Barang siapa yang terpenuhi hajatnya karena ramalan, maka ia telah musyrik).[31]

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Keampuhan ramalan itu tergantung keyakinanmu terhadapnya. Jika engkau meremehkannya, ia tidak akan berfungsi, dan jika engkau meyakininya, ia akan menguasai hidupmu...”.[32]

Di sisi yang lain, akidah Islam telah berhasil membebaskan akal muslimin dari ramalan-ramalan ahli Nujum. Akidah Islam memandangnya seperti dukun peramal yang mengikat ruang lingkup gerakan manusia dalam hidunya dan memperdaya akalnya.

Abdul Malik bin A’yun berkata kepada Abu Abdillah a.s.: “Saya telah kecanduan dengan ilmu ini - (yang ia maksud adalah ilmu Nujum) -. Ketika aku melihat tanda kejelekan (di langit), aku enggan pergi untuk menyelesaikan keperluanku, dan ketika aku melihat tanda kebaikan (di langit), aku pergi untuk menyelesaikan keperluanku”. Beliau bertanya kepadanya: “Apakah terbuktikan apa (yang engkau sangka itu)?” “Ya”, jawabnya. Selanjutnya beliau berkata: “Bakarlah buku-bukumu (yang berkenaan dengan ilmu Nujum) itu!”[33]

Perlu diingat, mazhab Ahlul Bayt a.s. tidak mencela ilmu Nujum sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang dengannya manusia dapat mengetahui keagungan langit, dan selanjutnya ia akan memahami kebesaran Penciptanya. Mazhab ini mencela klaim sebagian orang yang mengaku mengetahui alam ghaib dengan ilmu Nujum tersebut.

Sebagai bukti jelas atas usaha Ahlul Bayt a.s. untuk membebaskan manusia dari mempercayai ramalan-ramalan ilmu Nujum yang masih diyakini oleh sebagian orang di abad-abad terakhir ini adalah jawaban Amirul Mukminin a.s. kepada sebagian sahabat beliau. Ketika beliau hendak bergerak untuk memerangi Khawarij, sebagian sahabat dengan bersandarkan kepada ilmu Nujum berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, jika anda bergerak sekarang, aku takut anda akan gagal”.

Beliau menjawab: “Apakah engkau mengira dapat mengetahui sebuah masa yang jika seseorang mengerjakan sebuah pekerjaan pada masa tersebut, ia akan akan terselamatkan dari segala kejelekan? Dan apakah engkau menyangka dapat mengetahui sebuah masa yang jika seseorang melakukan sebuah pekerjaan pada masa tersebut, ia akan terancam kesengsaraan? Orang yang membenarkan sangkaanmu itu, ia telah membohongkan Alquran dan merasa tidak memerlukan pertolongan Allah lagi dalam menggapai tujuan dan menyingkirkan bahaya”.

Lalu beliau menghadap kepada para sahabat yang ikut serta dalam peperaangan itu seraya berkata: “Wahai manusia, janganlah mempelajari ilmu Nujum kecuali yang dapat anda gunakan untuk mencari petunjuk jalan di daratan atau di lautan ... Bergeraklah dengan nama Allah”.[34]

Membina Pemikiran Manusia

Dalam pandangan Islam, akal memiliki kedudukan yang sangat agung. Ia adalah dasar dan modal utama manusia untuk menggapai akidah yang benar. Dan di samping itu, akal adalah salah satu dari dalil-dalil ijtihad.

Rasulullah saww bersabda:

وَلِكُلِّ شَيْئٍ دَعَامَةٌ، وَدَعَامَةُ الدِّيْنِ الْعَقْلُ

(Segala sesuatu memiliki tiang penyanggah, dan tiang penyanggah agama adalah akal).[35]

Dari sisi lain, akal adalah tiang penyanggah insan mukmin. Rasulullah saww bersabda: “Barang siapa yang memiliki akal, maka ia telah memiliki agama, dan barang siapa yang memiliki agama, niscaya akan masuk surga”.[36]

Terdapat ratusan dalil yang membahas peranan penting akal, dan dengan meninjau dalil-dalil tersebut secara global, kita akan memahami bahwa Islam dalam usaha mengembangkan perannya secara maksimal melalui dua tahapan;pertama, membebaskan akal, dan kedua, mengarahkan dan memfungsikan kemampuan-kemampuannya.

1. Membebaskan Akal

Langkah pertama yang digunakan oleh Islam demi mengembangkan peran akal secara maksimal ini dapat kita pahami dari dalil-dalil yang memerintahkan setiap insan untuk memberantas belenggu-belenggu yang dapat mengikat akal, mencegahnya dari berkreatif dan menjerumuskannya ke dalam jurang kesalahan. Usaha Islam dalam hal ini adalah memberantas taklid buta.

Contoh-contoh usaha ini dapat kita baca dalam Alquran dalam berbagai kesempatan.

Ketika Alquran meminta dari musyrikin untuk membuktikan keyakinan (penyembahan patung) mereka dengan argumentasi yang benar, ia menekankan bahwa satu-satunya argumen yang mereka miliki hanyalah mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Alquran berfirman: “Bahkan mereka berkata: `Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka`.[37]

Alquran juga menekankan bahwa mengikuti tradisi nenek moyang ini adalah kebiasan sekelompok manusia yang telah terkunci akalnya. Allah berfirman: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam satu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: `Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka`”.[38]

Kadang kala Alquran menceritakan tradisi (mengikuti jejak nenek moyang) tersebut dalam dua ayat berturut-turut. Hal ini dimaksudkan supaya nampak jelas dangkalnya keyakinan dan kebodohan mereka. Tapi bagaimanapun, mereka tidak akan mengikuti kebenaran dan argumentasi yang dibawa oleh agama suci ini. Mereka akan berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang telah kami dapati nenek moyang kami melakukannya?”[39] Bahkan, jika seorang pemberi peringatan datang kepada mereka menerangkan kebatilan keyakinan mereka dan dengan tujuan membangkitkan kemauan mereka untuk mencari kebenaran, dan ia berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untuk kamu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk dari apa yang kamu dapati nenek moyangmu menganutnya?”[40], mereka tidak akan beranjak untuk mengikuti argumentasi kebenaran itu, bahkan mereka akan tetap memegang teguh kekeliruan mereka itu. Allah berfirman: “Mereka menjawab: `Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya`.[41] Dalam ayat yang lain Ia berfirman: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati nenek moyang kami melakukannya”.[42]

Dan Alquran telah berkali-kali menyebutkan pengingkaran mereka tersebut dalam kesempatan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan keyakinan-keyakinan itu telah terpatri kuat di dalam sanubari masyarakat kala itu, dan bahkan ada kemungkinan keyakinan itu akan merambat dan merasuki sanubari masyarakat yang hidup di masa mendatang. Lebih dari itu, keyakinan itu telah mempengaruhi suluk dan tingkah laku mereka.

Allah SWT berfirman: “Dan jika mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: `Kami mendapatkan nenek moyang kami mengerjakan yang demikian`”.[43] Dan dalam ayat yang lain Ia berfirman: “Mereka menjawab: `Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian`”.[44]

Setelah itu semua, Alquran menjelaskan balasan yang menunggu kedatangan sebuah kaum yang memiliki keyakinan itu dengan tujuan supaya mereka tidak mengikuti cara berpikir tersebut. Allah berfirman: “Maka Kami binasakan mereka. Oleh karena itu, perhatikanlah bagaimana akibat para pendusta”.[45]

2. Mengarahkan dan Memfungsikan

Kemampuan Akal

Setelah akidah Islam membebaskan akal dari belenggu-belenggu yang mengikatnya, lantas ia mendorongnya maju ke depan. Yaitu dengan mengarah-kan seluruh kemampuannya untuk berpikir dan merenungkan tentang alam dan kehidupan. Hal ini demi terwujudnya kehidupan yang sempurna baginya, baik kehidupan agama atau dunia.

Kami akan mengutip beberapa ayat Alquran yang mengajak akal untuk merenungkan cakrawala alam yang luas dan beraneka ragam ini:

Pertama, ayat yang mengajak akal untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT di jagad raya dan jiwa.

Allah swt berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي اْلأَلْبَابِ | الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَـفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring, dan merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka”).[46]

Allah berfirman:

وَفِي اْلأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوْقِنِيْنَ | وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ

(Dan di bumi ini terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?).[47]

Allah berfirman: “Katakanlah: `Perhatikanlah apa yang ada di lagnit dan di bumi`.[48]

Allah berfirman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa ia diciptakan”.[49]

Allah berfirman: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”.[50]

Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana diciptakan, gunung-gunung, bagaimana ditegakkan, dan bumi, bagaimana dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”.[51]

Patut diperhatikan, Alquran sering menceritakan tentang alam dan rahasia penciptaannya di beberapa surah dengan metode pemaparan yang berbeda-beda, dan mengajak manusia untuk melihat dan merenungkan segala fenomena yang terjadi di dalamnya. Dan yang lebih penting dari itu semua, Alquran menjadikan alam ini sebagai garis start untuk menuju Allah, Penciptanya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saww sering membaca ayat:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي اْلأَلْبَابِ | الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَ يَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Kemudian beliau bersabda : “Celakalah bagi orang yang membacanya tetapi tidak mau merenungkannya”.

Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah saww ketika bangun malam, beliau menggosok gigi, kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit dan membaca:[52]

Dan para imam a.s. dalam membuktikan keberadaan Allah, menganjurkan para pengikut mereka untuk merenungkan alam dan undang-undang teratur yang berjalan di dalamnya. Argumentasi ini di kalangan para ahli ilmu teologi dikenal dengan nama “dalil an-nadhm” (argumentasi keteraturan alam).

Amirul Mukminin a.s. berkata: “Jika mereka mau merenungkan kekuatan dan ni’mat (Allah) yang agung (yang telah dianugerahkan kepada para hamba-Nya), niscaya mereka akan kembali ke jalan yang benar dan takut siksa neraka. Akan tetapi, hati dan sanubari mereka telah dihinggapi penyakit (pengingkaran terhadap kebenaran). Apakah mereka tidak mau merenungkan tentang makhluk kecil yang telah Ia ciptakan dengan bentuk dan susunan yang sempurna, dan memberikan penglihatan, pendengaran, tulang dan kulit kepadanya?

Lihatlah semut yang kecil tubuhnya dan lembut bentuknya. Binatang kecil ini hampir-hampir tidak dapat dilihat oleh mata dan dijangkau oleh akal manusia. (Lihatlah) bagaimana ia berjalan di atas bumi mencari rizkinya. Jika engkau merenungkan alat pencernaan makanannya, tinggi dan rendahnya, sarana-sarana menakjubkan yang terdapat di perut, kepala dan telinganya, engkau akan terheran-heran memikirkan penciptaannya dan tidak akan mampu untuk mengungkapkan keajaibannya.

Lihatlah matahari dan bulan, gelombang ombak di lautan, beranekaragamnya gunung, memanjangnya puncak-puncak dan perbedaan bahasa dan logat berbicara ...

Celakalah bagi orang yang mengingkari adanya Dzat penentu Qadar dan membohongkan Dzat yang mengatur (alam ini). Mereka menyangka bahwa mereka adalah bak tetumbuhan (yang tumbuh sendiri) tanpa penanam dan beranekaragamnya wajah mereka (timbul dengan sendirinya) tanpa ada orang yang membuatnya. Sebenarnya mereka tidak memiliki argumentasi dan riset yang kuat untuk membenarkan sangkaan mereka itu.

Apakah mungkin terwujud sebuah bangunan tanpa ada orang yang membangunnya dan sebuah kriminalitas tanpa ada orang yang bertindak kriminalitas itu?!”[53]

Dari sisi lain, Alquran sendiri mendorong manusia untuk berpikir. Dalam hal ini, terkadang Alquran menggunakan bentuk ‘istifham inkari’ (yang digunakan untuk membatalkan keyakinan seseorang secara tidak langsung). Seperti firman Allah yang berbunyi:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَتُرْجَعُوْنَ

(Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptaknmu dengan sia-sia dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?).[54]

Dan kadang kala Alquran secara langsung membatalkan keyakinan orang-orang yang meyakini bahwa manusia diciptakan secara sia-sia (tidak melalui jalan istifham inkari). Seperti firman Allah yang berbunyi:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا لاَعِبِيْنَ | مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ

(Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan main-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak. Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui).[55]

Mazhab Ahlul Bayt a.s. menganggap berpikir dan merenungkan tentang langit dan bumi itu sebagai ibadah, dan bahkan ibadah yang paling utama.

Berkaitan dengan hal ini Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:

أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ إِدْمَانُ التَّفَكُّرِ فِي اللهِ وَفِي قُدْرَتِهِ

(Ibadah yang paling utama adalah senantiasa merenungkan tentang Allah dan kekuasaan-Nya).[56]

Dan para pengikut Ahlul Bayt a.s. senantiasa memperbanyak ibadah ini sehingga hal itu mampu memberikan sumbangsih secara aktif dalam membangun manusia dan mengantarkannya menuju derajat spiritual yang tinggi. Sebagai contoh, mayoritas ibadah Abu Dzar r.a. adalah berpikir dan mengambil pelajaran (‘ibrah) dari orang lain.

Ibu Abu Dzar ketika ditanya tentang ibadah anaknya itu menjawab : “Hari-harinya ia isi dengan merenungkan tentang satu sisi dari sekian banyak sisi yang dimiliki oleh manusia”.[57]

Patut diketahui, cara memandang alam wujud sebagaimana yang telah dibimbing oleh Alquran dan ‘Itrah (keluarga Rasulullah saww) adalah dasar utama bagi seluruh cara berpikir manusia dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, dengan berbedanya cara memandang alam wujud itu, muncullah keanekaragaman peradaban dan kebudayaan.

Kedua, ayat-ayat yang mengajak akal untuk merenungkan masa lalu sejarah. (Pada masa kini metode ini dikenal dengan nama “filsafat sejarah”).

Akidah Islam mengajak kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa sejarah dengan penuh jeli dan teliti dengan tujuan supaya kita dapat mengetahui faktor-faktor kehancuran dan kesuksesan sebuah masyarakat dan peradaban.

Allah SWT berfirman :

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيْرُوْا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

(Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul-Nya).[58]

Dalam ayat yang lain Ia berfirman: “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”.[59]

Allah juga berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, akan tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa”.[60]

Ayat-ayat di atas adalah seruan bagi manusia untuk memfungsikan kemampuan akalnya dan merenungkan sejarah umat-umat masa lampau sehingga ia tidak seperti kambing-kambing liar yang berjalan tanpa penggembala menuju satu tujuan yang tak menentu.

Ayat-ayat di atas adalah seruan bagi manusia untuk mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman peradaban masa lampau dan faktor-faktor kehancurannya. Karena peristiwa-peristiwa sejarah itu akan terulang kembali.

Allah SWT berfirman :

سُنَّةَ اللهِ فِي الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً

(Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelummu, dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah).[61]

Dan patut diperhatikan bahwa “peranan agama dan tanggung jawabnya dalam kehidupan manusia adalah mewujudkan suasana yang romantis dan serasi antara perilaku dan cara berpikir manusia dengan sunnah Allah yang berjalan dalam kehidupan ini sebagai undang-undang bagi makhluk-Nya di alam ini.[62]

Atas dasar ini, agama mengarahkan pemikiran manusia untuk merenungkan segala sesuatu secara mendalam dan terarah. Dan tentunya terdapat perbedaan yang mendasar antara pandangan yang dangkal terhadap kehidupan dan sejarah dengan pandangan yang dalam dan teliti yang tidak hanya ingin melihat suatu peristiwa secara sekilas. Akan tetapi, pandangan tersebut ingin meneliti dan menelusuri sejarah itu hingga ke akar-akarnya dengan tujuan untuk mengambil sebuah pelajaran berharga dari sejarah tersebut.

Sebagai contoh sederhana, seorang pelancong yang sedang berjalan melewati piramida-piramida Mesir yang megah, ia akan terpesona oleh keindahan arsitektur bangunan dan kemegahannya. Dan semua ini akan berakhir sampai di situ saja.

Berbeda dengan seorang perenung yang berakidah. Ketika ia berjalan melewati piramida-piramida itu, akan muncul kesimpulan-kesimpulan berikut ini di benaknya: kemampuan dan kekuatan manusia (dalam mewujudkan kemegahan itu), kezaliman dinasti Fir’aun dengan cara memaksa sejumlah besar tenaga manusia untuk membangun pramida tersebut dan tega menyiksa orang-orang lemah tersebut dengan beraneka ragam siksa. Di samping itu, ia akan mengambil pelajaran dari pengingkaran dinasti Fir’aun akan realitas kematian dan hari kebangkitan (dengan cara membangun piramida-piramida sebagai pelindung mayat-mayat mereka). Dengan ini, ia akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dengan melihat kemegahan itu.

Oleh karena itu, Ahlul Bayt a.s. menekankan pentingnya merenungkan segala sesuatu secara mendalam dan teliti.

Hasan Ash-Shaiqal berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah a.s.: `Apakah berpikir sesaat itu lebih baik dari beribadah semalam suntuk?` Beliau menjawab: `Betul. Rasulullah saww bersabda:

تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ

(Berpikir sesaat lebih baik dari beribadah semalam suntuk)”.[63]

Ketika Amirul Mukminin a.s. berjalan melewati reruntuhan kota Al-Mada`in, beliau menganjurkan para sahabat untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Beliau berkata:

إِنَّ هَؤُلاَءِ الْقَوْمَ كَانُوْا وَارِثِيْنَ فَأَصْبَحُوْا مَوْرُوْثِيْنَ، وَإِنَّ هَؤُلاَءِ الْقَوْمَ اسْتَحَلُّوا الْحُرُمَ فَحَلَّتْ فِيْهِمُ النِّقَمُ، فَلاَتَسْتَحِلُّوا الْحُرُمَ فَتَحُلَّ بِكُمُ النِّقَمُ

(Dahulu mereka adalah pewaris umat yang sebelum mereka, dan kini mereka diwarisi oleh umat setelah mereka. Dan mereka telah menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah. Oleh karena itu, siksaan telah menimpa mereka. Maka janganlah kamu menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah, karena siksaan akan menimpa kamu).[64]

Dalam kesempatan lain beliau berkata:

فَاعْتَبِرُوْا بِمَا أَصَابَ اْلأُمَمَ الْمُسْتَكْبِرِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنْ بَأْسِ اللهِ وَصَوْلاَتِهِ، وَوَقَائِعِهِ وَمَثُلاَتِهِ

(Belajarlah dari siksa dan azab Allah yang telah menimpa umat yang sombong sebelum kalian).[65]

Lebih dari itu, beliau juga mengingatkan bahwa ancaman dan siksaan berlaku untuk semua lapisan masyarakat, baik yang kafir atau mukmin, dan di segala tempat dan kesempatan. Hal ini terjadi ketika mukminin sudah tidak memperdulikan ajaran-ajaran agama dan menjauh dari jalan yang benar. Sebagai salah satu contoh ketidakperdulian mereka itu adalah memasyarakatnya perpecahan di kalangan mereka.

Berkenaan dengan hal di atas beliau berkata: “Lihatlah mukminin sebelum kalian, bagaimana mereka berhasil menghadapi bala` dan cobaan? Renungkan, ketika tujuan dan keinginan mereka satu, (mereka berhasil dalam menghadapi cobaan hidup). Dan lihatlah akibat mereka ketika mereka berpecah belah dan saling memerangi saudaranya yang lain. Allah telah melucuti baju kemuliaan dari badan mereka dan mencabut ni’mat-Nya yang luas dari (kehidupan) mereka. Kisah mereka (yang menyedihkan ini) hendaknya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran (dari sejarah)”.[66]

Dan di antara wasiat emas beliau a.s. untuk putranya, Imam Hasan a.s. beliau menganjurkannya untuk merenungkan peristiwa-peristiwa yang telah menimpa umat-umat masa lampau. Beliau berkata:

أَيْ بُنَيَّ، إِنِّي وَإِنْ لَمْ أَكُنْ عُمِّرْتُ عُمْرَ مَنْ كَانَ قَبْلِي، فَقَدْ نَظَرْتُ فِي أَعْمَالِهِمْ وَفَكَّرْتُ فِي أَخْبَارِهِمْ وَسِرْتَ فِي آثَارِهِمْ، حَتَّى عُدْتُ كَأَحَدِهِمْ، بَلْ كَأَنِّي بِمَا انْتَهَى اِلَيَّ مِنْ أُمُوْرِهِمْ قَدْ عُمِّرْتُ مَعَ أَوَّلِهِمْ إِلَى آخِرِهِمْ.

(Wahai anakku, meskipun aku tidak hidup sezaman dengan orang-orang sebelumku, akan tetapi aku dapat melihat perbuatan-perbuatan mereka, merenungkan kisah-kisah mereka dan menapaki jejak mereka, sehingga aku seperti pernah hidup di antara mereka. Dan bahkan - karena aku mengetahui segala peristiwa yang telah menimpa mereka - seolah-olah aku diberi umur seperti umur mereka).[67]

Ketiga, ayat-ayat yang menganjurkan kita untuk merenungkan hikmah yang tersembunyi di balik hukum-hukum syariat.

Hal itu ditujukan untuk menguatkan keyakinan seorang muslim akan kelanggengan agamanya dan validitas agama tersebut untuk diterapkan di setiap tempat dan zaman. Hal ini dimaksudkan agar awan-awan syubhah tersingkirkan dari cakrawala pemikirannya.

Hukum-hukum Islam kadang kala bersifat tauqifi yang kita tidak akan mampu untuk mengetahui rahasianya, seperti hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, dan kadang kala hukum-hukum tersebut memiliki sisi sosial yang Alquran telah menyingkap hikmah yang tersembunyi di balik hukum-hukum itu, dan karena suatu maslahat yang akan kembali kepada individu dan masyarakat di balik penyingkapan itu, seperti firman Allah:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

(Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa). [68]

Dalam ayat yang lain Ia berfirman:

مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ

(Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Ia ingin membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu).[69]

Begitu juga sunnah telah menyingkap hikmah-hikmah hukum-hukum tersebut di atas. Imam Ali bin Musa Ar-Ridla a.s. menulis surat kepada Muhammad bin Sinan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya: “Allah mengharamkan membunuh orang lain, karena jika pembunuhan tersebut dihalalkan, kekacauan akan menimpa makhluk bumi ini, dan hal itu akan menyebabkan kebinasaan mereka. Dan Allah mengharamkan zina, karena hal itu akan menyebabkan binasanya jiwa, tidak jelasnya garis keturunan dan harta waris, tidak terjaminnya pendidikan anak-anak (yang lahir dari zina itu) dan lain sebagainya.[70]

Keempat, ayat-ayat yang menyeru akal manusia untuk merenungkan (apa yang ada di alam ini), berpendirian teguh, mandiri dalam berpikir dan melangkah ke depan dengan mantap.

Rasulullah saww bersabda: “Janganlah kamu menjadi orang yang tidak memiliki pendirian. Jika masyarakat berbuat baik kepadanya, ia akan membalas kebaikan tersebut, dan jika mereka menzaliminya, ia akan membalas kezaliman itu. Akan tetapi mantapkanlah pendirian kalian. Jika masyarakat berbuat baik kepada kalian, balaslah kebaikan mereka, dan jika mereka menzalimi kalian, janganlah kalian balas kezaliman tersebut dengan kezaliman yang serupa”.[71]

Allah berfirman:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوْبٍ أَقْفَالُهَا

(Maka apakah mereka tidak mau merenungkan Alquran, ataukah hati mereka terkunci ?).[72]

Ayat di atas adalah seruan yang sangat menyentuh sanubari bagi kita untuk senantiasa berpikir dan merenungkan. Hal ini dapat dipahami dari: pertama, penolakan Alquran terhadap orang-orang yang berpikiran dangkal (tidak mau merenungkan secara mendalam) dan menentang kebenaran, dan kedua, kritikan yang keras nan tegas terhadap kelompok manusia itu.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

(Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar).[73]

Atas dasar ayat tersebut, sebuah klaim tidak akan memiliki nilai jika tidak dilandasi oleh argumentasi yang benar. Dan jika Zamakhsyari meyakini bahwa ayat di atas adalah dalil terkuat untuk menghancurkan pondasi mazhab para muqallid[74] (orang-orang yang mengikuti pendapat orang lain yang dipercayainya), akan tetapi kandungan ayat lebih dari itu, (yaitu tidak khusus hanya menyeru para muqallid untuk membuktikan klaim mereka dengan argumentasi yang benar). Karena ayat tersebut menyeru seluruh manusia yang berlatar belakang pemikiran berbeda-beda. Para pemikir kawakanpun, dikarenakan kekeliruan mereka meyakini formulasi-formulasi universal sebagai suatu yang badihiy, padahal tidak demikian, mungkin mengalami kekeliruan. Dan hal itu sering kali dialami oleh para ahli debat, dan kadang kala kekeliruan-kekeliruan tersebut terjadi pada ilmu pragmatis (terapan) ketika kita meyakini kesimpulan-kesimpulan yang kita peroleh telah dilandasi oleh formulasi-formulasi ilmiah yang permanen, padahal kesimpulan-kesimpulan tersebut hanya dilandasi oleh penelitian yang serba kurang.

Oleh karena itu, kita dapat memahami rahasia himbauan Alquran kepada kita untuk selalu membuktikan seluruh klaim kita dengan argumentasi yang kuat, baik yang berhubungan dengan ilmu akal atau ilmu pragmatis.

Dan tidak diragukan lagi bahwa medan untuk berpikir adalah luas seluas medan ilmu pengetahuan.

Ketika kita meneliti dalil-dalil yang berhubungan dengan masalah ini, kita dapat menggolongkannya ke dalam dua bagian:

1. Dalil-dalil yang menyeru seluruh lapisan masyarakat secara umum, baik ilmuwan atau masyarakat awam (untuk membuktikan klaim-klaim mereka dengan argumentasi, bukan dengan jalan taklid), meskipun secara sepintas dalil-dalil tersebut hanya ditujukan kepada masyarakat awam. Seperti ayat di atas.

2. Dalil-dalil yang berhubungan dengan janis khusus taklid. Yaitu bertaklid buta kepada pribadi-pribadi tertentu yang memiliki nama baik di kalangan masyarakat, dan seakan-akan mereka adalah tolok ukur kebenaran yang seluruh ucapan dan perilaku mereka tidak layak untuk dikoreksi. Dalil-dalil ini mengecam taklid jenis ini, karena taklid tersebut akan memusnahkan peran akal.

Jenis taklid inilah yang selalu menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesalahan. Amirul Mukminin a.s. telah berusaha sekuat tenaga untuk memerangi jenis taklid ini dengan menunjukkan metode yang benar untuk mencari dan mengetahui kebenaran. Ketika sebagian sahabat yang bingung melihat Thalhah, Zubair dan A’isyah bersatu memerangi beliau dan mereka menyangka bahwa ketiga orang tersebut tidak mungkin akan bersatu dalam kesalahan, datang menemui beliau, beliau menjawab dengan tegas:

إِنَّكَ مَلْبُوْسٌ عَلَيْكَ، إِنَّ دِيْنَ اللهَ لاَيُعْرَفُ بِالرِّجَالِ، بِلْ بِآيَةِ الْحَقِّ، فَاعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ

(Kamu keliru, karena tolok ukur agama Allah bukan orang-orang yang memeluknya, akan tetapi tolok ukurnya adalah haq (kebenaran). Oleh karena itu, ketahuilah hakekat kebenaran terlebih dahulu, niscaya kamu akan mengetahui orang-orangnya).[75]

Kelima, ayat-ayat yang menyeru manusia untuk menggali ilmu pengetahuan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama Islam menganjurkan para pengikutnya untuk menggali ilmu pengetahuan. Banyak ayat-ayat Alquran yang menyinggung hal ini, baik secara langsung atau tidak.

Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَيَعْلَمُوْنَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

(Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran”).[76]

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

(Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan).[77]

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

(Dan katakanlah : “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”).[78]

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

(Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama).[79]

Dan karena pentingnya ilmu, Allah SWT telah mengambil perjanjian dari ahli kitab untuk menjelaskan dan menyebarkannya (di kalangan masyarakat). Ia berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَتُبَـيَّنُـنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَتَكْـتُمُوْنَهُ ...

(Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberikan kitab, yaitu “Hendaknya kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan menyembunyikannya ...”).[80]

Hadis-hadis Rasulullah saww dan Ahlul Bayt a.s. juga menekankan bahwa ilmu adalah tiang penyanggah agama, dan dengan ilmu Islam akan hidup. Oleh karena itu, mereka menganjurkan kita untuk selalu menggalinya. Tinta ulama dalam pandangan Islam lebih utama dari darah syuhada`, keutamaan orang alim dibandingkan dengan keutamaan ahli ibadah bak keutamaan bulan atas seluruh bintang. Dalam kaitannya dengan hal ini Rasulullah saww bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ

(Mencari ilmu lebih utama di sisi Allah SWT dari shalat, puasa, haji dan jihad di jalan-Nya).[81]

Imam Ali a.s. berkata:

قِيْمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ

(Nilai setiap individu tergantung kepada kebaikan yang ia kerjakan dengan sebaik-baiknya).[82]

Perhatikanlah pesan Imam Ali a.s. kepada Kumail bin Ziyad An-Nakha’i di bawah ini ketika beliau membandingkan nilai ilmu pengetahuan dengan harta benda:

يَا كُمَيْلُ، اَلْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، اَلْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، وَالْمَالُ تَنْقُصُهُ النَّفَقَةُ وَالْعِلْمُ يَزْكُوْ عَلَى اْلإِنْفَاقِ، وَصَنِيْعُ الْمَالِ يَزُوْلُ بِزَوَالِهِ. يَا كُمَيْلُ بْنُ زِيَادٍ، مَعْرِفَةُ الْعِلْمِ دِيْنٌ يُدَانُ بِهِ، بِهِ يَكْسِبُ اْلإِنْسَانُ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ وَجَمِيْلَ اْلأُحْدُوْثَةِ بَعْدَ وَفَاتِهِ، وَالْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُوْمٌ عَلَيْهِ. يَا كُمَيْلُ، هَلَكَ خُزَّانُ اْلأمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ بَاقُوْنَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُوْدَةٌ وَأَمْثَالُهُمْ فِي الْقُلُوْبِ مَوْجُوْدَةٌ

(Wahai Kumail, ilmu lebih baik daripada harta. Karena ilmu itu akan menjagamu, sementara harta, kamu yang harus menjaganya. Harta akan berkurang dengan menginfakannya, sementara ilmu akan bertambah dengannya. Pemilik harta akan sirna dengan sirnanya harta. Wahai Kumail, ilmu adalah perantara manusia untuk beragama yang benar. Dengan ilmu manusia dapat menjalankan ketaatan dalam hidupnya dengan sebaik-baiknya, dan akan menjadi buah bibir masyarakat setelah ia meninggal dunia. Ilmu adalah hakim (yang dapat menentukan yang baik dan buruk), sedangkan harta akan dihakimi. Wahai Kumail, orang-orang yang menyimpan harta adalah mati meskipun mereka masih hidup, dan ulama akan abadi sepanjang masa. Meskipun tubuh mereka telah tiada, akan tetapi kenangan-kenangan mereka masih bersemayam di dalam sanubari).[83]

Dan bertolak dari bekal pengetahuan dan himbauan-himbauan Ahlul Bayt a.s. yang kaya ini, insan muslim akan berusaha menyelamatkan dirinya dari lembah kebodohan dan keterbelakangan menuju ke puncak piramida pengetahuan. Maka mulailah ia merenungkan fenomena-fenomena alam dan menyingkap rahasia-rahasianya dengan menggunakan metode eksperimen lapangan (manhaj tajribi) yang pada masa kini menjadi kebanggaan ilmu pengetahuan modern.

Gibb berkata dalam bukunya Al-Ittijahat Al-Haditsah fil Islam (Teori-teori Baru dalam Islam): “Menurut pendapat saya, sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa penelitian dan eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan Islam secara teliti telah membantu kemajuan pengetahuan ilmiah. Dan dikarenakan oleh penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Islam itu, metode eksperimen lapangan (dalam ilmu pengetahuan) telah memasyarakat di Eropa pada abad pertengahan”.[84]

Oleh karena itu, selayaknya kita berbangga diri dengan keagungan akidah Islam yang telah mampu menciptakan revolusi peradaban dalam jiwa putera-putera padang sahara ini sehingga mereka menjadi cermin seluruh dunia dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.

Ilmu dan Iman

Akidah adalah tali penghubung antara ilmu dan iman. Oleh karena itu, ilmu tanpa imam bagaikan tanaman yang tak berbuah. Ilmu mengajak kepada iman dan iman menganjurkan para pengikutnya untuk mencari ilmu. Memisahkan keduanya akan membuahkan akibat-akibat yang buruk. Syahid Murtadla Mutahhari menulis: “Pengalaman-pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa memisahkan ilmu dari iman telah melahirkan bahaya-bahaya yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, iman harus berada di bawah lentera ilmu sehingga iman itu akan terselamatkan dari kepercayaan-kepercayaan tahayul. Dengan memisahkan ilmu dari iman, iman itu akan kering, tercemari oleh fanatisme buta, kegoncangan jiwa dan menahan laju pemiliknya (menuju tingkatan-tingkatan spiritual). Muslimin yang tidak berilmu akan diperalat oleh munafikin, sebagaimana realita pahit ini dapat kita saksikan pada kaum Khawarij di masa permulaan Islam dan masa-masa setelah itu dengan bentuk yang beraneka ragam (meskipun esensinya sama). Dan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri yang digunakan untuk mencuri barang berharga di tengah malam. Atas dasar ini, seorang alim yang tidak beriman, tidak berbeda sedikitpun dengan orang bodoh, baik ditinjau dari sisi perangai atau esensinya”.[85]

Oleh karena itu, ilmu memerlukan iman sebagaimana badan membutuhkan ruh. Karena ilmu dengan sendirinya tidak akan mampu untuk membina manusia sempurna. Ilmu hanya mampu mendidik sebagian sisi dari sekian banyak sisi yang dimiliki oleh manusia. Mungkin ilmu tersebut mampu untuk menjadikannya berprestasi dalam segala bidang keilmuan, akan tetapi ia tidak akan mampu untuk membinanya menjadi manusia ideal. Ilmu hanya mampu membina manusia dari satu sisi, yaitu sisi materi. Sementara iman dapat membentuk kepribadian manusia dengan berbagai dimensinya.

Bangsa Eropa berbangga diri dengan ilmu pengetahuan sehingga mereka menuhankan ilmu pengetahuan tersebut. Hanya saja mereka tidak menciptakan ritus-ritus keagamaan khusus untuk ilmu pengetahuan itu. Oleh karena itu, ketika mereka melihat agama terfokuskan pada hal-hal yang ghaib, mereka menganggapnya suatu realita yang tidak ilmiah.

Atas dasar ini, muncullah satu keinginan kuat di kalangan mereka untuk memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Dan ini adalah satu realita yang tidak dapat diterima oleh agama Islam. “Dalil nyata atas adanya korelasi yang kuat antara agama dan ilmu pengetahuan (dalam agama Islam) adalah ajakan agama ini untuk menggali ilmu di setiap kesempatan dalam umur kita dan penghargaannya terhadap ilmu pengetahuan dan ulama. Dan jika dalam perjalanan sejarah pernah terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama, sebagaimana yang pernah dialami oleh agama Kristen, hal itu tidak ada hubungannya dengan agama. Jikapun pernah terjadi, agama itu bukanlah agama yang otentik”.[86]

Yang sangat disayangkan, ada suara-suara sumbang (di antara para pemeluk agama sendiri) yang mengumandangkan pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dengan alasan, bangsa Eropa ketika memisahkan diri dari agama, mereka mengalami kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Sementara kita, karena kita berpegang teguh dengan tali agama, akibatnya kita ketinggalan zaman.

Hal itu mungkin timbul dari ketidakmampuan akal mereka untuk memahami tugas ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Ilmu pengetahuan adalah satu sarana untuk menyingkap realita-realita tematis (al-haqaiq al-maudlu’iyyah) dan menjelaskan kenyataan secara netral dan jeli, tidak lebih dari itu. Atau hal itu timbul dari kebodohan mereka tentang agama Islam yang senantiasa mengajak kita untuk selalu menggali ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, orang-orang yang memiliki pendapat semacam itu pada umumnya adalah antek-antek bayaran yang selalu siap mempropagandakan statemen-statemen musuh-musuh Islam di mata dunia. Dan mereka lupa akan akibat jelek yang akan terlahirkan dari pemisahan agama dari ilmu pengetahuan ini.

“Contoh yang paling jelas dari (akibat pemisahan agama dari ilmu pengetahuan) itu adalah zaman kita sekarang ini. Satu zaman yang telah mencapai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan materi, sementara budaya saling membunuh secara liar dan percekcokan telah memasyarakat. Sebagai akibat, putuslah korelasi antar manusia dan ketakutan melanda di mana-mana. Di samping itu, masyarakat insani telah berubah dalam memandang tujuan hidup. Tujuan hidup yang utama -menurut mereka - adalah harta dan kesenangan hidup dengan segala coraknya. Hal inilah yang mengakibatkan merajalelanya dekadensi moral dan permainan seks bebas yang binatang-binatang di sekitar kitapun muak melihat kenyataan ini”.[87]

Melihat kenyataan ini, akidah Islam memiliki peranan yang sangat besar dalam mendidik dan membina manusia. Karena akidah memandang perlunya keselarasan antara peranan agama dan ilmu pengetahuan dalam membina kepribadian manusia, dan dengan memisahkan kedua unsur penting itu, manusia laksana jarum kompas yang bergerak menunjuk arah Utara dan Selatan tergantung di mana kompas itu diletakkan. Atas dasar ini, ia sangat memerlukan satu kekuatan yang mampu mewujudkan revolusi dalam dirinya dan membekalinya dengan teori-teori etika murni yang dapat merealisasikan kemanusiaannya. Dan ilmu pengetahuan tanpa bantuan agama tidak akan mampu mewujudkan hal itu.


[1] Al-Isra` 17 : 70.

[2] Al-Baqarah2 : 30.

[3] Al-A’raf 7 : 176.

[4] Al-Baqarah2 : 74.

[5] Lihat surah An-Nisa` 4 : 28, Al-Ma’arij 70 : 19, Al-Ahzab 33 : 72, Al-Anbiya` 21 : 37 dan Al-’Alaq 96 : 6.

[6] Al-Baqarah2 : 286.

[7] Al-Khishal, Ash-Shaduq : 417, bab at-tis’ah, cet. Jama’ah Al-Mudarrisin, Qom.

[8] Kanzul‘Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi 4 : 233, Muassasah Ar-Risalah, cet. 5.

[9] Man La Yahduruhul Faqih 4 : 21/31, bab ma yajibu fihit ta’zir wal had, Dar Sha’b, 1401 H.

[10] Al-Khisal : 33, bab al-itsnain, Jama’ah Al-Mudarrisin, Qom.

[11] Dauruddin Fi Hayatil Insan, Syekh Al-Ashifi : 50, Darut Ta’aruf, cet. 2.

[12] Al-Hujurat 49 : 13.

[13] Furu’ul Kafi 8 : 69, Dar Sha’b, cet. 3.

[14] Ma’alim Sakhsiyatil Muslim, Dr. Yahya F. : 79-80, Al-Maktabah Al-’Ashriyah, cet. 1399 H.

[15] An-Nisa` 4 : 171.

[16] Kanzul ‘Ummal 13 : hadis ke 36410.

[17] Biharul Anwar 49 : 129.

[18] Wasailusy Syi’ah 18 : 552, Dar Ihya`ut Turats Al-’Arabi, cet. 5.

[19] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 558, Hikmah ke 469.

[20] Al-Anfal 8 : 53.

[21] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 427.

[22] Ibid : 447.

[23] Ibid : 390.

[24] Fi Dhilal as-Shahifah as-Sajjadiyah, Syaikh Mughniyah : 100, Darut Ta’aruf, cet. 2.

[25] Fushshilat 41 : 37.

[26] Al-Ghasyiyah 88 : 17-20.

[27] Hud 11 : 52.

[28] Ushulul Kafi 2 : 374/2, kitab al-Iman wal Kufr, Dar Sha’b, cet. 4.

[29] Al-Khisal, Syaikh Shaduq 1-2 : 242, bab al-arba’ah, Jama’ah Al-Mudar-risin, 1403 H.

[30] Kanzul ‘Ummal 10 : 113.

[31] Ibid.

[32] Wasailusy Syi’ah 8 : 262.

[33] Wasailusy Syi’ah 8 : 268.

[34] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 105.

[35] Al-Mahajjatul Baidla`, Al-Muhaqqiq Al-Kasyani 1 : 172, kitabul ’ilm, Muassasah Al-A’lami, cet. 2.

[36] Ushulul Kafi, 1 : 11, kitab al-’Aql wal Jahl.

[37] Az-Zukhruf 43 : 22.

[38] Ibid : 23.

[39] Yunus 10 : 78.

[40] Az-Zukhruf 43 : 24.

[41] Ibid

[42] Al-Ma`idah 5 : 104.

[43] Al-A’raf 7 : 28.

[44] Asy-Syu’ara` 26 : 74.

[45] Az-Zukhruf 43 : 25.

[46] Ali Imran 3 : 190-191.

[47] Adz-Dzariyat 51 : 21-22.

[48] Yunus 10 : 101.

[49] Ath-Thariq 86 : 5.

[50] ‘Abasa 80 : 24.

[51] Al-Ghasyiyah 88 : 17-21.

[52] Al-Kasysysaf, Zamakhsyari 1 : 453.

[53] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 270-271.

[54] Al-Mukminun 23 : 115

[55] Ad-Dukhan 44 : 38-39.

[56] Ushulul Kafi 2 : 55/3, kitab al-Iman wa al-Kufr.

[57] Tanbihul Khawatir, Al-Amin Warram bin Abi Firas 1 : 250, bab at-Tafakkur, Dar Sha’b.

[58] Ali Imran 3 : 137.

[59] Al-An’am 6 : 6.

[60] Yunus 10 : 13.

[61] Al-Ahzab 33 : 62.

[62] Dauruddin fi Hayatil Insan, Syekh Mahdi Al-Asifi : 122-123, Darut Ta’aruf, cet. 2.

[63] Biharul Anwar71:325, diriwayatkan dari kitab Al-Mahasin : 26.

[64] Kanzul ‘Ummal16 : 205.

[65] Nahjul Balaghah,Shubhi Shalih : 290.

[66] Nahjul Balaghah: 296-297.

[67] Ibid : 393 - 394.

[68] Al-Baqarah2 : 179.

[69] Al-Ma`idah5 : 6.

[70] Man La Yahduruhul Faqih 3 : 369.

[71] Mizanul Hikmah 8 : 254, diriwayatkan dari kitab At-Targhib wat Tarhib 3 : 341.

[72] Muhammad 47 :24.

[73] Al-Baqarah2 : 111, An-Naml 27 : 64.

[74] Al-Kasysysaf 1 : 178.

[75] AmaliAth-Thusi : 625/1292, Muassasah Al-Bi’tsah; Biharul Anwar 39 :239/28.

[76] Az-Zumar 39 : 9.

[77] Al-Mujadalah 58 : 11.

[78] Thaha 20 : 114.

[79] Fathir 35 : 28.

[80] Ali Imran 3 :187.

[81] Kanzul ‘Ummal10 : 131/28655.

[82] Nahjul Balaghah,Shubhi Shalih : 482/hikmah 81.

[83] Ibid :496/hikmah 147.

[84] Manhajut Tarbiah Al-Islamiyah, M. Qutub : 119, Dar Dimasyq, cet 2.

[85] Al-Insan wal Iman, Syahid Mutahhari 1 : 5, cet. Kementerian Penerangan Islam.

[86] Dauruddin fi Hayatil Insan, Syeikh Al-Ashifi : 69, Darut Ta’aruf cet. 2.

[87] Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyah, M. Qutub : 115.

20 November 2008

Zaranggi

Suatu Cerita yang Perlu
Renungan Terbuka

Cerita ini terjadi pada beberapa abad yang lalu. Bermula dari pertemuan seorang ulama muslim dengan seorang kafir, yang kemudian berkelanjutan dengan dialog yang perlu kita renungkan. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah Islam, terdapat beberapa aliran pada waktu itu, dan bahkan sekarang. Salah satu dari perbedaan itu adalah bagaimana cara seorang muslim sejati menilai suatu “Kebaikan” dan “Keburukan”. Perbedaan itu sebenarnya menyangkut masalah fundamental keIslaman. Kubu Imam Ali as. dan Khawarij merupakan sumber utama perbedaan itu. Dan dari kedua kubu itulah kemudian menyusup masuk kedalam golongan-golongan lain, yang walaupun tidak memakai nama golongan keduanya. Pengikut Ahlulbait dan Khawarij
Sebagian kaum muslimin mengatakan bahwa “Kebaikan” dan “Keburukan” hanya dapat ditentukan oleh Sunnah. Yaitu sunnah Allah (Al-Qur’an) dan sunnah-Nabi (Hadits). Akal tidak mempunyai dan tidak boleh mempunyai saham dalam menentukan keduanya. Sebab, akal sangat terbatas kemampuannya. Maka dari itu barangsiapa menggunakan akalnya dalam agama, maka ia sesat dan berada diluar jalur Islam. Seperti orang-orang yang bertanya “Mengapa ayat itu atau hadits itu demikian”. Mereka mengatakan bahwa kita harus menerima dan tidak boleh menggugat apa-apa yang ada dalam ayat dan hadits.
Lain dengan apa yang diyakini oleh kelompok muslimin yang lain. Yang mana sangat mengkristal dalam golongan Pengikut Ahlulbait. Walaupun seabad setelah itu keyakinan tersebut mengkristal pula dalam diri golongan Mu’tazilah. Keyakinan itu adalah suatu keyakinan yang mengatakan bahwa akal manusia dapat mengetahui sebagian kebaikan dan keburukan walaupun tanpa melalui Syariat. Dan akal mempunyai saham untuk itu. Seperti dalam menentukan agama apakah yang paling baik. Hal ini akan kami jelaskan secara lebih rinci pada bab yang menyangkut “Posisi al-Qur’an Terhadap Keimanan”, Insya Allah. Mereka mengatakan bahwa akal boleh bertanya mengapa suatu ayat atau hadits sedemikian rupa.
Dalil dari golongan kedua ini akan kami rinci dalam bab tersendiri, Insya Allah. Namun harus diketahui sebagai inti dari keyakinan golongan ini bahwasanya pertanyaan akal terhadap syariat itu dilakukan demi mencapai syariat yang sebenarnya, bukan syariat yang semu atau diatasnamakan. Sebab, banyak sekali kaum yang sesat yang, sengaja atau tidak, telah bersembunyi di harakat-harakat atau lafat-lafat al-Qur’an dan hadits. Mereka menyeru dengan gigih supaya kaum muslimin kembali ke al-Qur’an dan hadits sebagaimana mereka. Sementara mereka meyakini bahwa tidak akan ada orang yang mampu memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan hadits. Lalu, kemanakah mereka menyeru? Ke al-Qur’ankah atau semi al-Qur’an? Ke makna dan maksudnya atau keharakat atau titik komanya?
Kembali ke al-Qur’an dan hadits bukan merupakan pekerjaan mudah yang bisa dicapai dengan hanya belajar agama dalam beberapa tahun. Lebih-lebih dengan hanya melihat dan membeli buku di trotoar jalan. Sebab, ternyata, sesama penganut al-Qur’an saling menyesatkan dan memasukkan kedalam dhalalah, dan yang paling ngeri ke neraka. Yang lebih aneh lagi, dalam pada itu, mereka mengatakan bahwa neraka dan surga adalah urusan Allah.
Memang aneh kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang hanya berloncatan dari harakat ayat yang satu ke harakat ayat yang lainnya sambil mengikat erat akalnya. Biasanya tidak lebih, hanya sekedar Ba… Ba… Ba, Bi… Bi… Bi… dan Bu… Bu… Bu… Mereka tidak lagi menatap kedalam ayat-ayatnya dengan pancaran obor akalnya. Apalagi untuk menatap hadits-hadits, yang kata mereka keluar dari sekedar manusia seperti kita. Sungguh kultur Islam yang sebenarnya terporakporAndakan dengan itu semua. Bahkan mereka, dengan membawa kantongan harakat-harakat itu, dengan penuh semangat, siap berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan memaksa golongan lain mengikuti mereka. Walaupun mereka tahu bahwa agama tidak dapat dipaksakan.
Tokoh ulama yang akan diceritakan dalam tulisan ini adalah yang mewakili golongan pertama. Yaitu yang mengharamkan menggunakan akal dalam agama. Tokoh ini mewajibkan dirinya untuk menyebarkan agama Islam di negerinya, Persia, setelah ia belajar Islam dinegeri arab. Sebab waktu itu, walaupun bangsa Persia sudah tergolong kaum muslimin, namun sementara itu ada di beberapa bagian lainnya, yang belum mendapatkan penjelasan agama Islam secara merata, dan masih dalam kekafiran. Salah satunya adalah sebuah kota yang sekarang bernama Hamadan. Dengan semangat jihad dan pengabdian, tokoh kita ini tidak surut karena rintangan. Ia mulai menginjakkan kakinya di kota Hamadan itu lalu mulai menyiarkan Islam.
Dengan kehadiran tokoh tersebut, yang penuh wibawa dan tanpa pamrih serta dengan bekal kitab yang diangkut dengan beberapa ekor unta, membuat suasana kota Hamadan sedikit berubah. Orang-orang yang memang sudah masuk Islam membicarakannya di masjid-masjid. Sementara yang lain, yang masih meragukan kebenaran Islam (kafir), membicarakannya di pasar-pasar. Walhasil situasi kota Hamadan hampir dipenuhi dengan pembicaraan mengenainya.
Pada suatu pagi, datanglah seorang yang nampak pAndai dirumah tokoh itu. Dan memang pada pagi itu pula datang beberapa orang lainnya. Sebab, sang tokoh itu setiap pagi sampai menjelang zhuhur selalu menerima tamu yang, khususnya ingin memperdalam Islam. Orang yang nampak pAndai itu memang salah seorang terpAndang dalam ilmu pengetahuan di kala dan di kota itu.
Seperti biasa, sang tokoh berpakaian rapi dan berwarna putih bersih dengan sorban melilit dikepala, selalu tersenyum ramah dalam menerima tamu-tamunya. Ruang tamunya yang sedikit luas terpenuhi dengan hamparan hambal. Para tamu segera mengambil posisi sendiri-sendiri ketika memasuki ruangan itu. Memang didepan pintu ada yang menjaga yang bertugas menerima tamu. Dia adalah salah satu murid terdekat sang tokoh. Mungkin memang karena namanya, orang yang nampak pAndai itu sedikit melebihi orang-orang pada umumya dalam pengetahuan dan mempunyai kelincahan lidah dalam pembicaraan. “Zaranggi”, adalah nama yang cukup lucu dalam bahasa Persia. “Zaranggi” artinya “cerdik”.
Pada pagi itu dengan penuh semangat Zaraggi duduk tepat dihadapan sang tokoh yang sembari menyiapkan beberapa bukunya melirik ke arahnya dan tersenyum. Dan, Zaranggi pun membalas senyuman sang tokoh.
Setelah ruangan hampir penuh, barulah majelis Tanya-jawab itu dibuka. Dengan penuh welas asih dan dengan ucapan basmalah serta beberapa kutipan ayat al-Qur’an sang tokoh membuka majelis. Kemudian ia berucap:
“Saudara-saudara sekalian, seperti biasa, mari kita bersihkan hati kita dari segala macam keburukan dan kedengkian serta kemalasan dalam mencari kebenaran. Semoga pada pagi yang cerah ini menjadi pertanda tercerahnya kebenaran agama suci Islam bagi hati kita sekalian. Dan saya harap Anda jangan sungkan-sungkan dalam bertanya. Silahkan!”
Sang tokoh memandangi satu persatu tamunya dengan penuh perhatian. Dan terakhir pandangannya tertumpu pada orang yang duduk didekatnya. Lalu dia bertanya dengan penuh persahabatan.
“Siapakah nama Tuan?”
Yang ditanya balas menjawab dengan ramah pula.
“Nama saya Zaranggi Tuan.”
“Terima kasih. Apakah Anda punya pertanyaan?” Tanya sang tokoh.
“Benar,” ia menjawab, “Apakah saya boleh bertanya apa saja mengenai agama Tuan?” lanjutnya.
“Ya, boleh saja dan saya senang sekali. Apakah pertanyaan Anda itu Tuan?” Tanya sang tokoh.
“Terimakasih. Pertanyaan saya yang pertama adalah apa nama agama Tuan, dan apa saja ajaran umumnya, serta apa dasar-dasarnya?” Tanya Zaranggi.
Dengan penuh hidmat dan hati-hati sang tokoh menjawab: “Agama kami adalah ‘Islam”. Ajaran umumnya adalah menganjurkan kebaikan dan melarang berbuat munkar (keburukan), sehingga dunia ini dipenuhi dengan rasa aman (salamah) dan tentram. Dasar-dasarnya ada dua macam. Yang pertama, yang bersangkutan dengan lahiriah manusia. Yaitu membaca syahadatain, shalat lima waktu dalam sehari, membayar zakat bagi yang mampu, puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji bagi yang mampu. Yang ini disebut ‘rukun Islam’. Sedangkan yang kedua adalah yang menyangkut hati nurani manusia. Yaitu, Iman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab Allah (Al-Qur’an), utusan-utusan Allah (Rasulullah), Hari Kebangkitan setelah kematian dan mengimani takdir Allah. Yang kedua ini disebut dengan ‘Rukun Iman’.”
“Bisakah Anda merinci dengan lebih jelas lagi tentang maksud masing-masing rukun Islam dan rukun Iman itu?” Zaranggi memohon.
“Oh tentu,” kata sang tokoh yang kemudian melanjutkan uraiannya terhadap satu persatu dari masing-masing rukun dari kedua rukun tersebut. Dan Zaranggi mendengarkannya secara seksama dan penuh rasa ingin tahu.
Setelah sang tokoh merinci poin-poin rukun Islam dan rukun Iman, Zaranggi bertanya.
“Sesuai dengan penjelasan Tuan, rasa-rasanya tersirat suatu pengertian bahwa yang masuk Islam atau mengamalkan rukun Islam belum tentu masuk Iman. Bukankah demikian?”
“Benar, memang demikian kenyataannya, dan mereka disebut munafik. Yaitu yang mengamalkan Islam tapi tidak mengimaninya dalam hati” jawab sang tokoh.
“Apa benar munafik itu ada Tuan? Sebab dengan demikian, mereka berlelah-lelah mengerjakan sesuatu yang tidak mereka yakini?” Tanya Zaranggi dengan sedikit keheranan.
“Menurut sejarah dan al-Qur’an (jawab sang tokoh), mereka itu benar-benar ada. Bahkan sejak zaman Nabi. Yang menunjukkan hal itu adalah adanya satu surat dalam al-Qur’an yang diberi nama ‘Surat Munafiqun’ yang artinya ‘orang-orang munafik’. Atau dalam ayat 101 surat al-Taubah. Di sini bahkan dikatakan bahwa Nabi tidak mengetahui keadaan mereka itu. Ayat yang dikasudkan tadi itu mempunyai inti demikian:
“Dan sebagian orang-orang desa yang ada di sekelilingmu adalah orang-orang munafik. Dan begitu pula sebagian orang-orang Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikan. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Sedang kami mengetahui mereka.” (Q.S. al-Taubah : 101)
“Lalu, untuk apa mereka melakukan itu Tuan?” tanya Zaranggi keheranan.
“Yah, kami tidak tahu Tuan. Mungkin saja mereka mempunyai maksud-maksud tersembunyi, misalnya untuk merusak Islam dari dalam atau untuk mendapatkan kepentingan duniawi lainnya” jawab sang tokoh.
“Apa betul mereka tidak ketahuan Tuan?” lagi-lagi Zaranggi bertanya penuh keheranan.
“Betul, yah… maklumlah namanya saja sudah munafik, lain dimulut lain pula dihati. Dalamnya laut dapat diterka tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Masalah hati hanya Allahlah yang tahu” sang tokoh menjawab sambil menghela nafas panjang.
“Siapa Allah yang dapat mengetahui isi hati itu Tuan?” tanya Zaranggi.
“Allah itu adalah Tuhan Pencipta kita dan alam semesta ini, Tuan Zaranggi” Jawabnya.
“Dari mana Anda tahu Tuan bahwa alam ini ada penciptanya dan Dia adalah Allah?” selidik Zaranggi.
“Dari al-Qur’an” jawab sang tokoh pendek.
“Apakah Ia satu-satunya Tuhan bagi sekalian alam ini Tuan? Sebab dalam agama kami ada tiga Tuhan” tanya Zaranggi.
“Benar Tuan Zaranggi. Dialah satu-satunya Tuhan bagi sekalian alam ini. Dan mustahil adanya dua Tuhan atau lebih” jawab sang tokoh dengan tegas.
“Dari mana Anda tahu itu Tuan?” tanya Zaranggi yang memang nampak ingin tahu argumen tokoh kita ini.
“Dari al-Qur’an dan al-Hadits” jawab tokoh kita dengan mantap.
“Apakah tidak ada pembuktian lain selain al-Qur’an dan al-Hadits Tuan? Sebagaimana filosof-filosof Yunani atau Parsi. Walaupun hasil pembuktian mereka memang ada yang berbeda” tanya Zaranggi yang memang banyak tahu tentang ilmu pengetahuan.
“Tidak ada Tuan. Para filosof berusaha mengenal-Nya dengan akal mereka. Sedangkan akal sangatlah terbatas kemampuannya. Oleh sebab itu dalam agama kami dilarang menggunakan akal dalam mengenali-Nya, dan juga dalam menentukan baik buruknya sesuatu kami harus kembali kepada apa yang dikatakan al-Qur’an dan al-Hadits saja” jawab sang tokoh memantapkan posisinya.
“Apakah agama Tuan mengunci mati akal?” tanya Zaranggi dengan sedikit keheranan. Sebab menurut orang-orang yang ia dengar, orang-orang muslim justru banyak yang pandai.
“Tidak” sergah sang tokoh. “Agama kami (lanjutnya) tidak mengunci mati akal. Akan tetapi yang menyangkut agama kami, mesti mengambil apa-apa yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa boleh bertanya kenapa demikian, misalnya. Sebab sudah kami katakan bahwa akal manusia terbatas. Artinya, tidak bisa menjangkau kebenaran hakiki (absolut). Berbeda dengan agama yang dapat menjangkaunya.”
“Baik” kata Zaranggi. “Lalu dengan apa Anda membenarkan agama Anda? Apakah dengan agama Anda pula? Dan tidak dengan akal?” Zaranggi mulai mendesak.
“Be… be… benar” jawab sang tokoh agak memaksa, karena tidak ada pilihan lain, dan sedikit tergagap. Sebab yang selama ini ia pelajari adalah dalam menentukan segala sesuatu harus dengan agama, tidak boleh dengan akal. Lha! Sekarang ditanya dengan apa mengatakan agama Islam benar? Susah menjawabnya.
“Tuan! Harap Anda ketahui, bahwa dalam agama kami dan agama-agama lain, masing-masing mengajarkan bahwa agama-agama itulah yang benar dan yang lainnya salah. Lalu mengapa Tuan tidak memilih agama kami saja dan meninggalkan Islam?” tanya Zaranggi sedikit memojokkan.
Muka tokoh kita mulai memerah. Lebih-lebih setelah beberapa tamu lainnya tertawa tertahan. Tapi apa boleh buat, memang dia sendirilah yang menyuruh orang-orang untuk bertanya apa saja.
“Tidak, tidak. Hal itu tidak mungkin kami lakukan” jawab sang tokoh sambil berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari berondongan pertanyaan Zaranggi yang nampak ceplas-ceplos itu.
“Kenapa Tuan?” tanya Zaranggi lagi.
“Karena hal itu merupakan dosa yang paling besar” jawab sang tokoh yang memang nampak merupakan jawaban asal comot saja.
“Kalau keluar dari agama Tuan Anda katakan dosa atau dapat murka Tuhan, apakah Anda tidak berfikir bahwa kalau kami keluar dari agama kami, kamipun akan mendapat murka dari Tuhan kami?” tanyanya lagi.
Dan tokoh kita tak bisa menjawab.
“Tapi baiklah, Anda tak perlu menjawabnya. Sekarang, bolehkah saya bertanya masalah lainnya?” Zaranggi mengalihkan pembicaraan karena dia melihat tokoh kita betul-betul kebingungan.
“Si… si… i… silahkan” sang tokoh memaksakan diri untuk mempersilahkan Zaranggi untuk bertanya. Walaupun sebenarnya ia sudah mulai kewalahan menghadapinya.
“Tadi Anda katakan bahwa agama adalah penentu segala-galanya, dan manusia tidak boleh mempersoalkannya. Apakah masuk akal atau tidak? Pertanyaan saya, kepada siapa, atau apa, Anda merujuk kebenaran agama (tolok ukur kebenaran agama)?” Zaranggi mulai membuka masalah baru.
“Kami merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits” jawab sang tokoh sambil berusaha membaca pikiran Zaranggi.
“Oh… benar! saya lupa untuk menanyakannya. Apa al-Qur’an dan al-Hadits itu?” Zaranggi bertanya setelah ia merubah posisi duduknya.
Karena sang tokoh menyadari siapa orang yang lebih muda yang duduk didepannya ini, maka ia mulai berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya.
“Al-Qur’an adalah berasal dari firman-firman Tuhan yang diwahyukan–dibisikkan–kepada Nabi Muhammad, yang kemudian didiktekan kepada para sahabatnya, yang menuliskannya ke tulang-tulang atau ke kulit-kulit kayu dan lain-lain. Dan setelah beliau wafat, firman-firman itu dikumpulkan dan disusun menjadi suatu kitab oleh atau atas ide sahabat besar beliau yang bernama Utsman ibn Affan. Sedangkan al-Hadits adalah kumpulan kata-kata Nabi atau perbuatannya” jawab sang tokoh.
“Aneh juga agama Tuan ini!” Zaranggi menyeletuk. Memang, dengan kecerdasannya, ia dapat merasakan keanehan itu sebelum sang tokoh menyadarinya.
“Apa… apa kata Tuan, aneh?” Sang Tokoh sedikit tersinggung dan juga bingung.
“Benar Tuan” Zaranggi terpaksa menjawab, walaupun ia tahu bahwa tokoh kita itu sudah mulai tersinggung. Sebab ia sudah terlanjur mengatakan kata-kata itu tadi.
“Kenapa begitu?” tanya sang tokoh ingin tahu.
“Begini Tuan. Anda tadi mengatakan, bahwa Anda mengetahui dari al-Qur’an bahwa alam ini ada penciptanya, dan penciptanya hanya satu. Sementara Anda mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kumpulan firman-firmanNya. Yah… bagi saya hal itu cukup aneh Tuan” Zaranggi menjelaskan.
= = = = =
Rupanya tokoh kita ini belum paham juga. Maka dari itu ia berkata:
“Kenapa aneh Tuan?”
“Dengan semua itu, yaitu al-Qur’an adalah ukuran segala-galanya, termasuk ada dan satunya Tuhan dan tidak bisa dengan jalan lain (jadi keberadaan dan ke-Esa-an Tuhan mau tidak mau harus dibuktikan dengan al-Qur’an), menandakan bahwa manusia harus beriman terlebih dahulu kepada al-Qur’an itu, sebelum mereka mengimani Tuhan itu sendiri. Bukankah hal itu cukup aneh Tuan?”
“Ee…e… maaf, Tuan Zaranggi, saya masih belum paham maksud Tuan” sang tokoh ingin penjelasan yang lebih rinci dari kata-kata Zaranggi itu.
“Tuan! Apakah tidak aneh kalau manusia disuruh mengimani kata-kata Tuhan sebelum mengimani adanya Tuhan itu sendiri? Atau mereka disuruh mengimani al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mengimani adanya pengirim al-Qur’an?”
Tokoh kita tertegun sejenak, karena ia sudah paham maksud Zaranggi. Tapi ia masih punya jawaban untuk itu. Maka dari itu ia berkata:
“Katakanlah itu aneh akan tetapi yah… memang harus begitulah pada kenyataannya. Sebab, seperti yang saya katakan tadi bahwa akal kita terbatas. Yakni kita tidak akan dapat mengenalinya dengan akal. Maka dari itu kita harus kembali ke firman-firmannya.”
“Baik! (kata Zaranggi) berarti manusia disuruh percaya kepada al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mempercayai Tuhan karena keterbatasan akal mereka. Sekarang saya mau bertanya kepada Anda, bagaimanakah caranya supaya manusia mempercayai al-Qur’an?”
“Yah… kita harus melihat bukti-buktinya” jawab sang tokoh.
“Kalau begitu kita harus membuktikan kebenaran ayat-ayatnya bukan?” Tanya Zaranggi.
“Benar” kata sang tokoh pendek.
“Wah… permasalahannya sekarang kok tambah rumit” Zaranggi mengeluh. Memang, dengan kecerdasannya ia dapat merasakan semua itu sebelum tokoh kita ini memahaminya. Oleh karena itu sang tokoh bertanya.
“Apanya yang rumit Tuan?”
“Tadi Anda mengatakan bahwa akal terbatas (kata Zaranggi) dan Anda mengatakan pula bahwa Tuhan ada dan Esa dari al-Qur’an, sementara sekarang Anda mengatakan bahwa kebenaran al-Qur’an harus dibuktikan sebelum kemudian mengimaninya. Lho… kalau akal terbatas maka bagaimana caranya membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa ‘Tuhan itu ada’ atau ‘Tuhan itu Esa dan lain-lain’?”
Terperangah juga sang tokoh mendengar jawaban Zaranggi itu. Dia bingung harus berkata apa. Tapi Ia berusaha untuk menutupi kebingungannya itu, walaupun tidak begitu berhasil. Dia bingung karena permasalahannya kok begitu peliknya, padahal sebelumnya ia tak pernah mempermasalahkan semua itu. Dan satu-satunya yang menjadi alat pembuktian kebenaran al-Qur’an selama ini karena tidak adanya orang yang mampu membuat satu ayat pun seperti al-Qur’an. Ia tidak tahu mengapa dulu tidak mempermasalahkan al-Qur’an seperti Zaranggi. Tapi seandainya ia pernah kafir atau dilahirkan dari ibu seorang kafir, maka ia akan tahu bahwa pertanyaan Zaranggi itu mestilah wajar-wajar saja, dan mesti pula ada jawabannya. Tapi apa boleh buat dia telah terlanjur memasuki aliran “Anti Akal” dalam memahami agama. Maka, tinggal satu lagi jawaban yang ia harap mampu memberikan penjelasan mengenai kebenaran al-Qur’an kepada Zaranggi. Oleh karenanya ia segera berucap:
“Tuan Zaranggi! Dalam al-Qur’an Allah berfirman, bahwa kalau manusia manapun tidak pecaya dan ingin membuktikan kebenaran al-Qur’an maka hendaknya ia membuat satu ayat saja seperti ayat al-Qur’an. Tapi nyatanya sudah berabad-abad tidak seorangpun yang mampu melakukannya. Apalagi sampai satu surat, satu juz atau bahkan satu kitab. Dengan bukti ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa al-Qur’an memang datang dari-Nya.’’
“Baik! (kata Zaranggi), dalil Anda tadi hanya membuktikan bahwa al-Qur’an dari Tuhan bukan dari manusia. Tapi hal tersebut tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan hanya satu. Sebab, seperti agama kami, Zoroaster, ada tiga Tuhan, yaitu Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman. Nah, barangkali al-Qur’an itu datang dari salah satu dari mereka. Apa jawab Tuan tentang hal ini?”
“Ah... itu tidak mungkin Tuan!” sergah sang tokoh.
“Kenapa?” Zaranggi ingin tahu.
“Sebab di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan hanyalah satu dan Dia adalah Allah, bukan Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman” jawab tokoh kita sambil wajahnya berseri-seri karena ia merasa dapat mempertahankan kesucian al-Qur’an dengan ucapannya itu.
“Tuan! (Kata Zaranggi) Anda tidak dapat berdalil dengan ayat yang mengatakan bahwa Tuhan hanya satu itu, lalu Anda menutup kemungkinan bahwa Tuhan lebih dari satu.”
“Kenapa?” tanya sang tokoh sedikit heran.
“Sebab Anda sendiri tidak dapat membuktikan, kebenaran ayat itu Tuan, karena keterbatasan akal sebagaimana tadi Anda katakan. Dan mengenai al-Qur’an yang tidak bisa ditiru bukankah telah saya katakan bahwa hal itu hanya membuktikan bahwa al-Qur’an datang dari Tuhan. Karena ia mempunyai kekuatan yang tak bisa dijangkau manusia. Tapi tidak dapat dijadikan bukti akan adanya satu Tuhan.”
Pusing. Tokoh kita jadi pusing. ia tidak mengira sama sekali permasalahannya akan jadi sedemikian rumit. Bahkan belasan tahun ia belajar, tidak pernah menghadapi masalah seperti itu. Dan kitab yang dibawa oleh beberapa onta itu pun tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi ini. Yah maklumlah, tokoh kita ini selama belasan tahun hanya belajar di pusat ilmu pengetahuan dari kalangan yang mengharamkan akal dalam agama. Kasihan sekali. Akhirnya karena ia bingung, maka ia ganti bertanya.
“Apakah hal itu mungkin Tuan? Apakah mungkin salah satu di antara Tuhan Tuan menurunkan al-Qur’an dan ia merubah nama serta mengaku hanya sendirian?”
“Yah kalau hanya dari jawaban-jawaban Anda, hal itu mungkin saja Tuan. Apalagi Anda pernah suatu hari menjelaskan kepada kami bahwa seandainya ada dua Tuhan atau lebih, maka dunia ini akan hancur karena mereka akan bersaing. Yah...barangkali mereka bersaing khususnya yang satu ini, mungkin ia ingin mendapatkan pengaruh dari manusia, maka dari itu ia mengaku sendirian dan menurunkan al-Qur’an. Dan tiga Tuhan itu sebenarnya sekedar contoh, sesuai keyakinan kami. Akan tetapi barangkali sebenarnya Tuhan mungkin malah lebih dari itu.”
“Itu tidak mungkin Tuan” kata sang tokoh.
“Kenapa Tuan?” Zaranggi balik bertanya.
“Sebab kalau Tuhan yang satu itu bersaing dengan melakukan apa yang Anda katakan ini maka pastilah Tuhan yang lain tidak akan membiarkannya. Dan pasti akan timbul pertengkaran yang akan membawa kehancuran alam semesta ini Tuan.”
“Tuan! Bagi saya pertengkaran itu belum tentu membawa kehancuran. Sebab, Tuhan-Tuhan itu kan berkuasa untuk tidak membuat kehancuran. Lagi pula bisa saja Tuhan-Tuhan yang lain itu membiarkan tingkah Tuhan yang satu itu karena mereka tidak memerlukan pengaruh dari manusia, Tuan.”
“Ah... hal itu tidak mungkin Tuan (jawab tokoh kita), masa ada Tuhan begitu. Ada yang bikin masalah tapi ada pula yang mengalah.”
“Lho... kenapa tidak mungkin Tuan, apa alasannya?” Zaranggi berusaha mendesak.
“Sebab, Tuhan itu Maha Sempurna (kata sang tokoh), oleh karena itu tidak mungkin ada yang lebih bijak dari-Nya sehingga ada yang mengalah atas kelakuan-Nya; atau Tuhan itu Maha Suci, sehingga tak mungkin Tuhan itu akan saling berebut pengaruh; atau Tuhan itu Maha Berkuasa dan Kuat, sehingga tak mungkin ia membiarkan yang lain menganiayai-Nya.”
“Dari mana Anda tahu bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat semacam itu? Dan bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa kalau ada lebih dari satu Tuhan akan timbul persaingan? Lagi pula kalau Anda boleh mengatakan bahwa Tuhan-Tuhan itu akan bersaing, mengapa saya tidak boleh mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang mengalah? Bukankah yang saya katakan masih lebih baik dari apa yang Anda katakan, sebab masih ada sebagian yang lain yang masih mempunyai sifat kesempurnaan? Dan kalau saya salah dalam perkataan saya itu, apa yang Anda jadikan dalil untuk menyalahkan saya itu?” Zaranggi terus mendesak dan tokoh kita tak lagi mampu menjawab. Dia bahkan hanyut dalam lamunan.
Mentok! Tokoh kita semakin bingung. Kata-kata Zaranggi, sekilas, nampak lucu dan mengada-ada. Tapi... bagaimana menjawabnya (bisik sang tokoh dalam hati). Kalau dijawab bahwa dalilnya al-Qur’an, dalam hal ini al-Qur’an masih belum dapat dibuktikan kebenarannya. Dan justru sekarang ini dalam rangka membuktikan kebenaran al-Qur’an. Dan kalau dijawab semacam itu berarti untuk membuktikan kebenaran satu ayat perlu ditunjang dengan ayat yang lain yang masih akan dipertanyakan kebenarannya, dan akan begitu seterusnya sampai akhir ayat al-Qur’an. Memang... ia pernah mendengar golongan kaum muslimin yang membolehkan menggunakan akal dalam agama walaupun dalam batas-batas tertentu. Tapi dia tidak dapat memanfaatkan ilmu mereka, sebab ia tidak sealiran dan memang belum mempelajarinya. Walaupun ia telah berpuluh-puluh tahun belajar di pendidikan Islam.
Selagi sang tokoh melamun, Zaranggi nyeletuk lagi.
“Baiklah Tuan, katakanlah Tuhan Maha Sempurna, Suci dan Kuat sehingga tak ada yang lebih bijak atau lebih kuat. Tapi itu kan kalau dihubungkan dengan kita sebagai makhluk. Tapi kalau dihubungkan dengan sesama Tuhan bukankah hal itu mungkin-mungkin saja Tuan. Dan kalau tidak mungkin apa dalilnya? Atau bisa saja malah di antara sesama Tuhan tidak bertengkar. Bisa saja mereka bahkan hidup rukun dan bekerjasama dalam penciptaan. Sehingga dengan demikian tidak akan ada perselisihan seperti yang Anda katakan atau khawatirkan tadi. Sebab kalau kita saja suka kepada kerukunan apalagi Tuhan. Dan kalau Anda katakan ‘tidak mungkin’, karena Tuhan tidak boleh bekerjasama karena hal itu akan menunjukkan kekurangannya, apa dalilnya. Kita sesama makhluk bekerjasama, mengapa tidak mungkin sesama Tuhan bekerjasama? Bukankah hal itu tidak bisa dikatakan bahwa Tuhan bersifat seperti makhluk-Nya yang kekurangan? Sebab makhluk bekerjasama dengan makhluk dan minta tolong kepada Tuhan, tapi Tuhan bekerja sama dengan Tuhan dan mereka tidak perlu banTuan makhluk? Atau, katakanlah Tuhan mempunyai kesamaan sifat dengan makhluk, lalu kenapa? Misalnya Anda katakan bahwa Tuhan mempunyai sifat wujud, hidup. Bukankah kita juga hidup dan wujud?”
Waduh repot juga (pikir sang tokoh kita). Yang satu belum terjawab datang lagi berondongan pertanyaan yang tak kalah repotnya. Ingin ia mengusir Zaranggi atau meninggalkannya pergi atau bahkan mengajaknya berkelahi, tapi (ia pikir) apakah begitu seorang yang mengaku pembela Islam? Membela Islam dengan kekurangan dan kebodohannya? Ah... tidak... tidak... aku tidak boleh melakukannya.
Kini ia semakin sadar bahwa ilmunya tidak dapat dengan baik menolong orang lain yang ingin mengetahui Islam. Maka dari itu ia segera memutuskan untuk meminta maaf atas kekurangannya itu dengan ucapannya:
“Maaf Tuan Zaranggi, dalam hal ini saya tidak bisa menjawab.”
“Baiklah Tuan (kata Zaranggi) bolehkah saya menanyakan hal-hal yang lain? Dan saya minta maaf telah mendesak Anda. Tapi hal itu saya lakukan karena saya ingin mengetahui sejauh mana kebenaran Islam. Dan kalau memang terbukti benar tentu saja saya berniat memasukinya.”
“Yah... tidak apa-apa Tuan Zaranggi. Memang sudah semestinya Anda menanyakan sebelum Anda memasukinya. Saya kagum kepada ketelitian dan ketulusan Tuan. Bahkan sekali lagi saya minta maaf kepada Anda, karena saya tidak dapat banyak menolong Anda. Dan mengenai pertanyaan Anda, saya pikir silahkan saja, semoga saya dapat membantu Anda.”
“Terima kasih Tuan. Pertanyaan saya menyangkut dasar Islam yang lain. Yaitu hadits, sebagaimana Anda terangkan tadi” kata Zaranggi.
“Oh... silahkan saja!” sang tokoh mempersilahkan.
“Baik, terima kasih. Pertanyaan saya adalah siapa pengumpul kata-kata atau perbuatan Nabi itu Tuan? Apakah juga Utsman?”
“Oh! Tidak (jawab sang tokoh). Pengumpulnya banyak. Misalnya Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai dan lain-lain.”
“Apakah mereka itu juga sahabat-sahabat besar Nabi Tuan?” Zaranggi bertanya sambil penuh perhatian.
“Bukan! (jawab tokoh kita ini). Mereka adalah orang-orang besar yang rata-rata lahir sekitar akhir atau setelah abad kedua setelah wafatnya Nabi.”
Setelah tokoh kita menjawab, dalam hatinya ada rasa keheranan. Karena ia melihat Zaranggi yang duduk di depannya mengerutkan alisnya. Pertanda ada sesuatu yang ia pikirkan atau ada sesuatu yang ia anggap aneh lagi. Tapi apa ya? (pikirnya).
Setelah Zaranggi manggut-manggut sejenak, ia meneruskan pertanyaannya.
“Bagaimana caranya mereka menuliskan Tuan. Bukankah jarak mereka dengan Nabi Anda sangat jauh?”
Tokoh kita tersenyum, karena ia sudah memperkirakan pertanyaan Zaranggi itu dan ia sudah pula mempersiapkan jawabannya. Maka langsung saja ia menjawab tanpa ia sadari bahwa ia akan terjepit lagi.
“Mereka itu menulis dari orang-orang yang pernah mendengar suatu hadits melalui orang-orang lain, sampai kepada Nabi.” jawabnya.
“Sampai berapa orang kira-kira, sehingga menyambung kepada Nabi?” tanya Zaranggi.
“Yah... bisa lima atau lebih” jawab sang tokoh yang masih belum menyadari bahwa ia akan terjepit lagi.
“Apakah mereka dapat dipercaya Tuan?” Zaranggi mulai mempermasalahkan keabsahan salah satu dasar agama Islam.
“Oh... dapat, dapat. Mereka itu dapat dipercaya. Mereka diteliti melalui sejarah. Yah...yang memang terbukti tidak dapat dipercaya atau bukan orang-orang yang shaleh, haditsnya akan digugurkan” kata sang tokoh meyakinkan Zaranggi.
Tapi dasar Zaranggi orang kafir, maka ia tidak terikat dengan ini dan itu. Maka ia tanyakan apa saja yang ingin ia tanyakan. Dan sudah tentu dengan bahasa yang polos. Maka ia bertanya sambil mulai mendesak tokoh kita lagi.
“Tuan! (katanya) kalau demikian halnya maka agama Tuan yang Anda pahami dan bawa ini belum tentu benar (relatif).”
“Kenapa begitu?” Tokoh kita mulai penasaran.
“Hal itu ada beberapa alasan. Pertama, dalam mempercayai seseorang, setiap satu orang di antara kita akan timbul perbedaan (relatifitas). Bisa saja sekelompok orang percaya terhadap seseorang, tapi kelompok yang lain mendustakannya. Dan saya pikir hal itu wajar. Artinya, bukanlah suatu keanehan kalau dalam mempercayai seseorang ada perbedaan. Kedua, keshalehan seseorang, tidak dapat diketahui oleh orang lain. Karena, seperti yang Tuan jelaskan, masalah hati tidak dapat kita pantau. Jadi bisa saja seseorang dianggap shaleh bagi sebagian orang, dan tidak bagi sebagian yang lain. Yah... masih relatif juga. Ketiga, Anda mengatakan bahwa orang-orang munafik ada. Sebagian mereka memang diketahui sehingga bisa kita pantau melalui penulisan sejarah. Akan tetapi sesuai dengan yang Anda jelaskan kepada saya tadi, dalam al-Qur’an mengisyaratkan adanya orang-orang munafik yang mereka tinggal di desa-desa dan juga di kota serta di sekitar Nabi, yang tidak diketahui oleh Nabi sekalipun. Lalu bagaimana kalau hadits-hadits itu datang dari mereka?”
= = = =
Kasihan, tokoh kita ini mulai bingung lagi. Tapi karena ia yakin bahwa Islam harus dibela, maka ia berusaha menjawabnya, walaupun sebenarnya ia tidak sadar bahwa Islam tidak serakah terhadap pembelaan. ia hanya mau dibela dengan pembelaan yang Islamis pula. Tidak dengan pembelaan yang tidak Islamis.
“Yah... memang demikian” kata sang tokoh tidak dapat menolak kata-kata Zaranggi. Karena ia sadar perbedaan pendapat dalam banyak hal dalam Islam terjadi. Bahkan sampai kepada saling syirik-menyirikkan atau sesat-menyesatkan. “Akan tetapi (sambungnya) asal tidak bertentangan dengan Qur’an, kita dapat mengambilnya. Lagi pula walaupun penentu utama keshalehan adalah batin, akan tetapi hal itu dapat dipantau melalui amal-amal lahirnya. Dan amal-amal lahir itu ibarat sinar matahari. Artinya karena sinar matahari itu menunjukkan adanya matahari itu sendiri, maka amal-amal shaleh itu dapat menunjukkan keimanan seseorang.”
Kini Zaranggi betul-betul ingin membuktikan kebenaran Islam yang dibawa tokoh kita ini. Maka dari itu, ia terus mendesak tokoh kita. ia berkata:
“Apa yang Tuan sampaikan tidak dapat mengangkat kerelatifan dalam agama Islam yang dipahami oleh umatnya. Dan tidak menutup kemungkinan akan adanya penyelewengan-penyelewengan.”
“Kenapa begitu?” Sergah tokoh kita yang sudah mulai tidak sabaran ini. Dan segera ingin mengetahui alasan yang kelihatannya sengaja ditunda-tunda oleh Zaranggi.
“Sebab pertama (jawab Zaranggi) adalah, menurut saya dalam memahami kitab suci Tuan tidak berbeda seperti memahami buku-buku atau kitab-kitab suci agama lain. Yang saya maksudkan dalam artian kerelatifan dalam memahaminya. Jadi, bisa saja satu hadits bertentangan dengan al-Qur’an menurut sebagian orang dan tidak bertentangan menurut sebagian yang lain. Sebab kedua adalah pemantauan terhadap batin melalui amal lahir sangat tidak memadai. Sebab, tidak mungkin dalam pemantauan itu dapat dilakukan sepanjang hidup mereka dan dalam segala keadaan mereka sebelum kemudian hadits mereka dituliskan. Jadi, bisa saja mereka itu baik di pasar tapi tidak baik di rumah. Atau baik kemarin tapi besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya atau tahun sebelumnya, mungkin tergolong orang-orang yang tidak baik. Atau pemantau (penulis) hadits itu sendiri bagaimana? Apakah mereka baik, jujur, dalam pekerjaan mereka? Siapa yang menjamin mereka? Dan siapa yang menjamin orang yang menjamin mereka itu dan seterusnya? Sebab ketiga adalah, Anda mengatakan bahwa memantau batin melalui amal-amal lahir ibarat memantau matahari lewat sinarnya. Padahal Anda juga mengatakan bahwa munafik itu ada dan barangkali ia melakukan itu untuk merusak Islam dari dalam. Kalau begitu sudah tentu para munafik itu selalu beramal baik untuk menutupi niat buruknya. Sebab tak akan ada orang yang mengaku pencuri ketika ia ingin mencuri. Sebab keempat adalah, Anda tadi pernah menyebutkan istilah sahabat besar. Bagaimana kalau ada hadits yang menyebutkan bahwa sebagian sahabat-sahabat besar atau sekian ribu sahabat umpamanya, munafik? Apakah hadits itu dapat Anda katakan bertentangan dengan al-Qur’an? Sebab Anda katakan tadi bahwa sebagian orang-orang desa dan yang ada di sekeliling Nabi terdapat orang-orang munafik, yang tidak diketahui oleh Nabi sekalipun. Sebab kelima adalah, Anda mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tak baik atau shaleh, misalnya orang yang tidak shalat atau suka berdusta, tidak bakalan diterima. Nah, kalau demikian halnya maka Anda tidak akan menerima dari orang-orang yang suka membunuh bukan? Padahal Anda sendiri pernah mengatakan kepada kami pada suatu hari bahwa setelah Nabi wafat telah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Yaitu adanya beberapa peperangan antara puluhan ribu sahabat dengan puluhan ribu yang lainnya. Sedang perawi utama sebuah hadits adalah mereka. Bagaimana Anda dapat mempertahankan konsep Anda?”
Tokoh kita sama sekali tidak mengira dengan apa yang akan diucapkan oleh orang yang bernama Zaranggi itu. ia salah tingkah, ia emosi dan tersinggung dengan ceplas-ceplosnya pertanyaan Zaranggi yang mempermasalahkan dasar-dasar nilai Islam yang tersebar. Dan yang lebih membuat tokoh kita itu seakan ingin menampar orang yang di depannya itu adalah ketidaksungkanan Zaranggi terhadap semua sahabat-sahabat Nabi yang diyakininya sebagai penolong-penolong Islam, mujahid dan mendapat keridhaan Allah. Tapi di lain pihak ia sadar bahwa ia tidak dapat melakukan apa-apa selain harus berkonsentrasi terhadap pertanyaan Zaranggi. Sebab selain ia akan malu sekali kalau mempertahankan Islam dengan otot dan paksaan juga dengan kebodohan. ia melihat kejujuran dalam diri Zaranggi yang menurutnya ia benar-benar ingin tahu agama Islam.
Tanpa ia sadari, ia yang dulunya yakin berjalan di atas al-Qur’an, sekarang merasa ragu. Pertanyaan Zaranggi itu benar-benar telah menyadarkannya bahwa siapa tahu, barangkali selama ini ia berjalan di atas al-Qur’an yang bukan al-Qur’an. Artinya, ia berjalan di atas al-Qur’an yang relatif, yaitu al-Qur’an yang ia dan madzhabnya atau golongannya pahami. Sebab, menurut kata hatinya, tidak mungkin al-Qur’an dengan al-Qur’an menyesatkan. Apalagi saling menyuruh pengikutnya untuk berbunuh-bunuhan. Padahal kenyataannya sesama kaum muslimin saling menyesatkan. Bahkan muslimin gelombang pertama, yaitu sahabat Nabi, saling bertumpah darah dalam beberapa peperangan sepeninggal Nabi.
Tak kalah terperanjatnya hati sang tokoh ketika Zaranggi mempermasalahkan keabsahan pemilihan keshalehan atau kejujuran dari seseorang yang menjadi perawi suatu hadits. Untung ia mempunyai banyak pengetahuan tentang hadits, sehingga ia dapat menerima yang dikatakannya itu. Sebab kalau tidak, barangkali ia akan mengusir Zaranggi dari rumahnya. Tapi karena ia tahu bahwa yang dikatakan Zaranggi itu memang masuk akal dan merupakan salah satu kelemahan ilmu hadits, maka ia tidak melakukan pekerjaan yang hina itu. Dan di samping itu, ia, sesuai dengan ilmunya yang cukup lumayan tentang hadits itu, memang mengetahui bahwa dalam menilai perawi hadits terdapat berpuluh-puluh perbedaan. Seorang penilai perawi hadits yang bermadzhab tertentu akan melemahkan seorang perawi hadits yang bermadzhab lain. Apalagi penilaian terhadap seorang perawi hadits tidak mungkin sempurna. Sebab, umur seorang penulis hadits atau umur penilai perawi hadits tidak akan cukup untuk digunakan meneliti seorang saja dari sekian perawi dari sebuah hadits. Apalagi untuk meneliti semua perawi hadits yang berjumlah ribuan atau bahkan puluhan ribu.
Sahabat. ia sadar. Sekali lagi ia sadar dan baru sadar. Selama ini, selama ia belajar hadits, selama ia meneliti dengan seksama perawi-perawi suatu hadits memang ia mengenal suatu kaum perawi yang kebal terhadap penelitian. Bahkan tidak boleh diteliti. Semua perawi hadits diteliti dengan seksama. Tapi kalau sudah sampai ke kaum itu, kaum yang menukil langsung dari Rasulullah, mikroskop yang digunakan para ahli peneliti perawi hadits menjadi pecah berantakan. Sebab, teropong itu tidak mampu meneropong kaum yang penuh fadhilah itu. Dan kini, ketika ia berhadapan dengan orang yang masih suci pikiran dari aliran-aliran Islam, karena ia memang masih kafir, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Namun ia agak berlega hati karena ia ingat suatu ayat dalam surat al-Taubah ayat 100. Oleh sebab itu, sembari menarik napas sedikit lega ia berharap akan mampu menyelamatkan salah satu khazanah Islam. Yaitu mengenai sahabat. Sebab, rasa-rasanya ia tidak mampu menjawab tuduhan Zaranggi yang merelatifkan Islam yang dipahami umat. Bukan Islam sebagaimana ia. Maka dengan lirih tapi dengan penuh rasa tanggung jawab ia berucap:
“Tuan Zaranggi! Saya merasa kagum terhadap pertanyaan-pertanyaan Tuan. Dan saya sadar akan keterbatasan atau, barangkali tepatnya, atas kesalahan saya dalam memilih alur pemikiran Islam dari alur-alur yang ada. Memang Nabi telah mengisyaratkan akan adanya jalur-jalur yang banyak, sedangkan yang benar hanya satu. Saya berjanji akan memperdalam lagi dan akan kembali ke sini untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan saya ini suatu hari, insya Allah. Dan untuk ini, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”
Orang-orang terperangah. Orang yang selama ini mereka kenal sebagai orang yang cekatan dalam menjawab berbagai pertanyaan yang menyangkut Islam, kini tersimpuh lemah di hadapan Zaranggi. Zaranggi tak bisa dipersalahkan walaupun ia, yang berbekal sedikit filsafat itu, mempertanyakan hal-hal yang sangat mendasar dalam Islam. ia tidak bertanya apa dan bagaimana keadilan, sosial, kemanusiaan, peranan kaum pria dan wanita dalam masyarakat dan semacamnya menurut Islam. Bahkan dengan apa Islam memAndang semua itu yang biasanya bagi seorang Islam yang segolongan dengan tokoh kita ini, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang tabu untuk mereka tanyakan.
“Namun (lanjut sang tokoh) mengenai sahabat Nabi yang mana mereka dalam kaitannya dengan hadits Islam merupakan mata rantai pertama dalam susunan perawi-perawi hadits, adalah merupakan suatu kaum yang telah mendapat keridhaan Allah. Hal mana terdapat dalam firman-Nya dalam surat al-Taubah ayat 100, yang artinya,
“Mereka para pendahulu dari kaum muhajirin dan anshar, dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya maka mereka diridhai Allah dan mereka juga ridha terhadap-Nya.” (Q.S. al-Taubah : 100)
Jadi, dengan ayat ini posisi mereka di dalam Islam adalah sangat terhormat. Dengan jasa mereka pulalah Islam sampai kepada kita, maka umat Islam harus berterima kasih terhadap mereka, bukan malah mempertanyakan keadaan mereka.”
Setelah selesai sang tokoh menyampaikan rasa penyesalan dan maafnya, hal mana sangat dikagumi oleh Zaranggi atas keterbukaan dan kejujurannya itu, walaupun di sisi lain Zaranggi belum puas karena ternyata yang selama ini ia ingin ketahui dari agama Islam, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sebab Zaranggi sendiri mengira bahwa Islam sangat dapat diAndalkan. Hal itu ia ketahui karena beberapa filosof besar dari kalangan kaum muslimin. Tapi Zaranggi tidak menyadari bahwa tokoh kita ini adalah termasuk dari golongan orang-orang yang melarang menggunakan akal dalam agama. Alias suatu golongan yang kembali pada al-Qur’an dan al-Hadits secara leterlek. Artinya tidak membolehkan akal untuk menakwil suatu ayat atau hadits. Bahkan orang-orang yang suka menakwil dikatakan oleh mereka sebagai orang-orang yang sakit. Karena, katanya, mereka mengikuti yang mutasyabihat.
“Terima kasih atas janji dan kesediaan Tuan dalam menjanjikan jawaban untuk kami (kata Zaranggi). Sekali lagi terima kasih. Dan saya pribadi kagum terhadap kejujuran dan keterbukaan serta penghormatan Anda pada norma-norma ilmiah, dan tidak menjadi marah kepada saya sebagaimana pernah saya alami sebelumnya.”
Memang, karena pertanyaan Zaranggi yang kelihatannya kurang sopan terhadap Islam dan tokoh-tokoh Islam, walaupun sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu mengandung kejujuran seorang pencari kebenaran hakiki, pada suatu hari ia pernah dimarahi oleh seorang tokoh lain yang memang sudah mulai kepepet dengan pertanyaan-pertanyaan Zaranggi.
Dari gelagatnya, jawaban terakhir tokoh kita ini, bagi Zaranggi adalah merupakan jawaban yang asal comot saja, tanpa dipikir lebih jauh. ia dapat memperkirakan bahwa pertanyaannya yang berikut akan membuat tokoh kita ini tidak dapat menjawab lagi. “Namun (kata Zaranggi dalam hati) biar ia cari nanti jawabannya dan kemudian ia memberikan jawabannya kepada saya. Toh ia bersedia untuk itu. Dan saya akan mendapat kepuasan dalam menatap agama Islam.” Karena pikirannya itu, Zaranggi memohon supaya ia dapat menanyakan beberapa hal lagi. Maka dari itu ia melanjutkan perkataannya:
“Tuan! Bolehkan saya meneruskan pertanyaan saya dalam diskusi ini Tuan?”
“Yah... boleh saja Tuan Zaranggi. Apa itu?” kata sang tokoh.
“Begini Tuan (kata Zaranggi yang kemudian ia teruskan) Tuan tadi mengatakan bahwa sahabat-sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka itu telah mendapat ridha Tuhan sesuai dengan ayat yang Tuan bawakan tadi. Akan tetapi di sini ada keganjilannya Tuan.”
“Apa keganjilannya Tuan Zaranggi?” Sang tokoh mulai penasaran lagi. Sebab permasalahan itu adalah satu-satunya permasalahan yang ia yakini dapat mempertahankannya. Tapi ternyata, lagi-lagi masih saja dipertanyakan kebenarannya. Maka, ia benar-benar memperhatikan apa-apa yang dijadikan alasan Zaranggi ketika ia berucap:
“Eee... sebelum saya ajukan alasan-alasan, ada yang ingin saya sampaikan. Yaitu seandainya saya seorang muslim maka selayaknyalah saya berterima kasih kepada generasi Islam pertama. Yaitu yang dikatakan sahabat-sahabat Nabi itu. Tapi karena saya belum mengimani agama Islam saya berhak bertanya mengenai mutu mereka itu. Bahkan saya rasa, saya wajib mempertanyakannya. Sebab Islam yang ada ini tidak bisa tidak akan dicoraki oleh mutu mereka. Sebab dari merekalah generasi penerus memahami Islam. Maka dari itu kecerdasan, kejujuran dan lain-lainnya dari setiap individu mereka sangat menentukan kemurnian Islam di masa datang .setelah mereka. Barangkali hal mereka sudah berlalu, tapi justru karena keberlaluan mereka itulah mereka harus dinilai karena sebab-sebab tadi. Dan bagi saya amatlah janggal untuk menyamaratakan kedudukan mereka. Sebab selama ini belum ada suatu umat yang tidak ada pencurinya, orang-orang jahatnya atau orang-orang bodohnya sekalipun baik. Bahkan biasanya yang paling banyak adalah orang-orang yang bukan intelek. Dan justru dari Tuan dan kitab Tuan sendiri saya dapat mengatakan bahwa sahabat-sahabat Nabi Tuan tidak berbeda dengan umat-umat yang lain dari segi adanya orang-orang yang tidak baik dalam lingkungannya.”
“Apa yang Anda ketahui dari saya dan kitab saya?” Potong tokoh kita yang semakin tidak sabaran ini. Sambil mencari-cari gerangan apa yang telah dikatakannya, sebagaimana disinggung Zaranggi tadi.
“Alasan pertama (kata Zaranggi), Anda tadi menukil beberapa ayat yang intinya menyatakan dan memberitahukan kepada Nabi bahwa di sekeliling beliau ada orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang sama-sama melakukan apa yang mesti dilakukan oleh orang-orang muslim. Dan karena Nabi dalam ayat itu, tidak mengetahui siapa mereka, apalagi orang-orang muslim yang lain. Dan dari ayat itu juga bisa diambil pengertian bahwa orang-orang munafik itu begitu taat dan shalehnya sehingga Nabi sendiri tidak dapat membaca mereka. Barangkali karena kecanggihan mereka itulah ayat-ayat yang Anda nukil tadi mengatakan bahwa mereka sangat keterlaluan dalam kemunafikan mereka. Alasan kedua adalah, dalam kenyataan sejarah Islam yang menyedihkan, kata Anda, adalah adanya beberapa peperangan yang terjadi di kalangan sahabat-sahabat Nabi sepeninggal beliau. Dan sudah tentu ratusan atau ribuan korban telah jatuh dalam kejadian-kejadian itu. Menurut saya, mustahil golongan yang sama-sama benar, berperang. Dan kalau logika saya ini masuk, maka setiap dua golongan yang bertikai (bertentangan) mestilah yang satu dari mereka salah, atau semuanya salah. Sebab sesama golongan sesat bisa saja berperang. Dan peperangan itu, kata Anda, telah terjadi dalam beberapa kali. Kalau demikian halnya maka Islam ini telah ditransfer oleh orang-orang yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab mereka bukan lagi pencuri, pembohong atau orang-orang yang makan berdiri dan semacamnya, sehingga hadits mereka adalah lemah atau tertolak. Akan tetapi mereka adalah pembunuh. Dan bahkan mereka adalah pembunuh yang membanggakan diri. Sebab dalam peperangan apapun, membunuh adalah salah satu kemenangan yang membanggakan. Kalau yang membawa Islam pertama kali sedemikian keadaannya maka seshaleh apapun perawi berikutnya masih sulit untuk diterima kebenarannya. Apalagi sudah saya katakan bahwa perawi-perawi berikutnya pun tidak dapat dikatakan shaleh dengan sebenar-benarnya–seratus persen–sebab sebagai-mana maklum, kata agama Anda, yang tahu masalah lahir dan batin adalah hanya Tuhan.
Dengan dua dalil ini saja, kalau agama Anda dan kitab Anda benar, maka barangkali ada suatu pemahaman lain tentang ayat yang Anda nukil tadi, yaitu yang mengatakan bahwa mereka atau para sahabat itu telah diridhai Tuhan.”
Kepepet! Wah tokoh kita kepepet lagi, dan tak bisa berkata apa-apa. Karena ia terdiam, maka Zaranggi meneruskan kata-katanya.
“Tuan! Ada satu lagi, tapi sebelum saya utarakan apakah Tuan tidak marah kalau saya, dari kata-kata Anda, mengajukan suatu keganjilan yang dilakukan sahabat besar seperti yang Anda ucapkan?” Sejenak Zaranggi berhenti dan ia menunggu jawaban sang tokoh yang walaupun agak terlambat, akhirnya ia mempersilahkan.
“Silahkan saja Tuan Zaranggi!” kata sang tokoh yang sedikit tersendat. Zaranggi tak perduli lagi, dia terus saja nyelonong dengan iskal-iskalnya (Pertanyaan-pertanyaan).
“Baik, terima kasih. Sebenarnya keganjilan itu ada di antara dua alternatif. Kesalahan Anda dalam memantau sejarah al-Qur’an, atau memang, seperti yang saya ucapkan, adalah suatu keganjilan yang dilakukan sahabat Nabi.”
“Eh... maaf (potong sang tokoh), coba Anda terangkan secara lebih jelas, apa maksud Anda sebenarnya.”
“Begini Tuan (jawab Zaranggi) Anda mengatakan bahwa Islam berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi. Bukankah begitu?”
“Benar” jawab tokoh kita.
“Akan tetapi (lanjut Zaranggi), ketika saya tanyakan kepada Anda apa al-Qur’an itu, Anda mengatakan bahwa ia adalah kumpulan firman-firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi dan disusun oleh–atau disusun atas ide–Utsman bin Affan sebagai salah satu sahabat besar. Bukankah begitu?”
“Benar” kata sang tokoh membenarkan.
“Nah, sekarang saya mau bertanya. Apakah Nabi tidak menyusunnya?” tanya Zaranggi.
“Tidak” kata sang tokoh. Dan ia tak mungkin menjawab bahwa Nabi telah menyusunnya. Sebab, yang ia kenal al-Qur’an yang ada sekarang ini adalah mushhaf Utsmani bukan mushhaf Muhammadi.
“Nah kalau begitu, yakni kalau Nabi tidak mengumpulkan, berarti salah satu dasar dari agama Islam, yakni hadits, tidak menyuruh untuk menyusunnya. Lalu kenapa sahabat besar beliau menyusunnya? Bukankah hal itu bertentangan dengan sunnah sendiri? Dan juga bahkan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebab ketika Nabi tidak menyusunnya berarti tak ada perintah dari Tuhan, sebab Nabi adalah duta (wakil/utusan) Tuhan?”
“Oh... tidak, tidak, tidak Tuan Zaranggi, tidak demikian permasalahannya” sergah tokoh kita.
“Kenapa?” tanya Zaranggi.
“Sebab, hal itu baik dan tak ada larangannya” jawab sang tokoh pendek.
“Tapi kan tak ada dalil bolehnya Tuan?” Zaranggi mendesak terus.
“Walhasil baik dan tak ada larangannya” jawab sang tokoh. Memang tokoh kita ini akan menjawab ada. Sebab dia teringat sebuah hadits yang menyuruh kaum muslimin mengikuti sunnah Nabi dan para Khulafa’u al-Rasyidin. Akan tetapi terpikir olehnya sendiri bahwa hal itu tidak mungkin, sebab akan ada sesuatu selain al-Qur’an dan Hadits, sebagai dasar Islam. Yang tentu akan dijadikan masalah oleh Zaranggi, yaitu soal Khulafa’u al-Rasyidin itu. Lebih-lebih sekarang ia dipertemukan kepada dua perbuatan yang berbeda yang datang dari Nabi dan Khulafa’u al-Rasyidin.
“Bukan begitu Tuan (kata Zaranggi), di sini saya melihat suatu keanehan. Sebab bagi pengertian saya, yang namanya kitab suci, tidak mungkin tidak tersusun dan tetap berserakan di antara dedaunan, kulit-kulit kayu atau tulang.”
“Yah... barangkali Nabi belum sempat menyusunnya” sang tokoh beralasan dengan sedikit ragu terhadap jawabannya itu.
“Sebenarnya saya tidak berhak untuk mempermasalahkan agama Tuan. Mau benar atau tidak. Akan tetapi semua yang saya lakukan ini adalah semata-mata saya ingin tahu kebenaran agama Tuan. Jadi maaf, kalau dari pertanyaan saya ini terkesan kurang sopan terhadap agama Tuan.” Kembali Zaranggi menjelaskan maksud baiknya. Sebab, dia khawatir sang tokoh di depannya akan mulai tidak sabaran dan mengusirnya, seperti yang ia alami beberapa tahun yang lalu.
“Oh... tidak apa-apa, itu biasa dan orang yang ingin tahu Islam mestilah ia menanyakannya secara tuntas” kata sang tokoh membesarkan hati sambil memberikan gambaran bahwa Islam bukanlah agama yang asal paksa. ia adalah agama besar dan suci. Yah... tapi malang sang tokoh tak dapat membuktikan semua itu pada Zaranggi.
“Bolehkah saya lanjutkan pertanyaan saya sedikit lagi Tuan?” pinta Zaranggi.
“Ya, ya, silahkan” sang tokoh mempersilahkan.
“Begini Tuan (jelas Zaranggi), bagi pengertian saya, seorang Nabi pun tidak berhak untuk menyusun kitab suci semaunya sendiri. Kalau al-Qur’an itu memang benar dari Tuhan, maka siapa pun tidak boleh ikut campur dalam urusan itu. Lalu mengapa Anda katakan bahwa barangkali Nabi belum sempat?”
Terperanjat juga sang tokoh kita ini mendengar kata-kata Zaranggi. Tapi ia belum paham benar apa maksud Zaranggi. Maka, dengan sedikit heran, karena ia memang berusaha menutupinya, ia bertanya:
“Kenapa Nabi tidak boleh menyusunnya?”
“Lho... Anda tadi, di waktu menjelaskan rukun Islam dan rukun Iman, mengatakan bahwa Nabi itu adalah wakil Tuhan, bukankah begitu?”
“Benar” jawab sang tokoh pendek.
“Nah... kalau begitu, karena ia wakil Tuhan, maka bolehkah ia mengatur dan menyusun sendiri firman-firman Tuhan itu Tuan? Bolehkah wakil Tuhan mengatur dan menyusun firman Tuhan?” Zaranggi terus mendesak.
“Katakanlah tidak boleh, tapi dalam penyusunan itu tak akan mempengaruhi isinya dan tujuan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, Tuan” sang tokoh berusaha menjelaskan posisi al-Qur’an.
“Aneh... aneh juga agama Tuan ini (desah Zaranggi). Kenapa Tuhan Anda tidak melakukan penyusunan itu dan mengesahkannya pada manusia.”
“Yah... katakanlah itu sebagai tugas manusia,” sang tokoh ingin lebih meyakinkan Zaranggi.
“Tuan! Dari mana Anda tahu bahwa itu adalah tugas manusia. Sebab, jangankan perintah untuk itu, dalil pembolehannya saja, dari agama, Anda tadi tidak dapat menunjukkan kepada saya. Lalu dari mana Anda dapat memahami itu?” Zaranggi terus mendesak tokoh kita. Dan tokoh kita tidak memberikan jawaban. Akhirnya Zaranggi meneruskan pertanyaannya.
“Atau begini Tuan! (Zaranggi berusaha memberikan argumen lagi). Menyusun kitab tentu tidak mudah, sebab mana yang harus diletakkan di depan, di tengah dan di belakang. Dan dalam hal ini tidak ada petunjuk dari Tuhan Tuan. Sekarang saya mau bertanya, bagaimana kalau surat-surat itu tersusun tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Anda kehendaki. Dan saya yakin susunan manusia itu tidak akan sama dengan yang ia kehendaki. Sebab, sebagaimana Anda katakan tadi, dalam hal tersebut tidak ada petunjuk dari-Nya.”
“Sudah saya katakan tadi (sang tokoh mengingatkan Zaranggi) bahwa tidak adanya petunjuk itu berarti penyusunannya itu terserah kepada kita. Dan hal itu berarti tidak merubah essensi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
“Baiklah! (kata Zaranggi). Sekarang, saya mau bertanya apakah boleh seorang menulis al-Qur’an dalam bentuk lain dari al-Qur’an yang ada ini, Tuan. Artinya surat-surat yang di depan ditukar tempatnya dengan surat-surat yang ada di tengah atau di belakang?”
“Ah... itu tidak boleh dilakukan Tuan!” kata sang tokoh dengan sedikit gusar.
“Kenapa?” tanya Zaranggi.
“Karena akan menimbulkan ketidakseragaman di antara kaum muslimin,” jelas sang tokoh.
“Apakah ketidakseragaman itu tidak baik Tuan?” Zaranggi terus bertanya.
“Yah... kurang baik atau bahkan tidak baik sama sekali,” jawab sang tokoh.
“Lho... (Zaranggi terkejut), apakah Tuhan Tuan tidak menyadari tentang hal ini Tuan, sehingga tidak menyusunnya, sehingga orang-orang akan memahami, seperti yang Anda katakan, bahwa tidak samanya susunan manusia dengan Tuhan tidak merubah essensi al-Qur’an? Atau berangkat dari namanya saja, yaitu kitab suci, yang menAndakan suci dari segala-galanya, akan menjadi tidak suci lagi kalau ada campur tangan manusia.”
“Kenapa begitu?” tanya tokoh kita yang semakin kebingungan ini.
“Sebab bagi saya kitab suci termasuk berarti suci dari campur tangan manusia yang hina ini. Kitab suci haruslah hanya disusun oleh Tuhan sendiri. Dan al-Qur’an sulit untuk dipercaya oleh kami sebagai firman-Nya yang murni, seAndainya Ia lalai mewahyukan kepada Nabi-Nya untuk menyusun kitab-Nya itu. Lebih-lebih firman-Nya atau sunnah Nabi-Nya tidak ada yang menyuruh untuk itu, sesuai dengan apa yang tadi Anda katakan. Bagi saya kalau memang agama Islam ini benar, tidak adanya perintah dalam firman-Nya dan sunnah digabung dengan mustahilnya Tuhan membiarkan firman-Nya berserakan di daun-daun, kulit-kulit kayu, tulang-tulang dan lain-lain, menunjukkan bahwa ia telah menyusun semua firman-Nya itu dengan membimbing Nabi-Nya. Tapi yah... sekarang belum bisa kami yakini kebenaran Islam ini sebelum janji untuk menyelesaikan diskusi ini dapat Anda penuhi nantinya.”
= = = =
Dengan perasaan malu tapi ia berusaha untuk tetap tenang tokoh kita ini terpaksa berjanji untuk kesekian kalinya pada Zaranggi. Ia berkata:
“Apa yang Anda katakan, semuanya tadi ada rada benarnya.
Saya kagum kepada kecemerlangan Tuan. Semoga saya dapat segera membantu Tuan dalam hal ini setelah saya memperdalam lagi. Dan sekali lagi maafkanlah kami dalam keterbatasan kami ini. Dan karena sekarang sudah tengah hari saya pikir untuk hari ini kita cukupkan sekian dulu. Untuk besok dan seterusnya, sementara, tidak ada pertemuan, sampai saya kembali nanti. Dan sekali lagi saya ucapkan maaf untuk ini serta terima kasih saya ucapkan untuk kedatangan dan perhatiannya selama ini,” kata tokoh kita ini.
Setelah bersalam-salaman dengan penuh akrab, pertemuan pada hari itu, yang mana sebagai hari terakhir, telah berakhir. Dan tinggallah sang tokoh dengan beberapa muridnya untuk melakukan shalat zhuhur berjamaah. Setelah shalat sang tokoh sejenak melamun dan memikirkan kejadian besar yang baru pertamakali ia alami selama ia menyebarkan agama Islam. ia sedih dan menyesal serta memohon beribu-ribu ampunan dari Tuhan, ia minta petunjuk kepada Allah agar ia membimbingnya ke jalan yang benar (Shirath al-mustaqim).
Setelah itu ia menghadap murid-muridnya yang nampak semakin tegang melihat gurunya tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi tadi. Dengan suara lirih dan penuh kasih sayang tokoh kita ini mengatakan:
“Murid-muridku! Gurumu ini adalah ibarat setetes dari lautan luas pengetahuan Islam. Yakinkanlah bahwa kelemahan itu ada pada gurumu ini. Bukan pada Islam. Memang sekarang aku baru sadar bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian muslimin, yaitu memperdalam logika dan filsafat, yang kami di pesantren dulu menganggap hal itu telah mengotori agama karena telah memasukkan unsur akal ke dalamnya, ternyata sangat bermanfaat untuk mempertahankan Islam. Bahkan tanpa akal, seperti yang terjadi tadi, kita tidak dapat mempertahankan kesuciannya. Terus terang, kami dulu waktu belajar di pesantren, kami merasa bahagia (bangga) dan sangat bersyukur kepada Allah karena ia telah membimbing kami kepada Islam murni. Artinya, karena kami hanya berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Kami tidak menerima segala macam takwilan yang bersifat akli terhadap keduanya. Kami mengira hanya dengan kembali kepada keduanya kita akan selamat dan tidak akan terpecah seperti yang diisyaratkan dalam hadits (yaitu yang menjadi 73 bagian).”
“Ee... maaf guru,” celetuk salah seorang murid.
“Ah... tak apa, ada apa?” kata sang guru.
“Bolehkah saya menanyakan satu hal?” jawab sang murid.
“Boleh saja. Tanyakanlah!” si guru mempersilahkan.
“Guru! Apakah dalam al-Qur’an atau hadits tidak ada yang menganjurkan menggunakan akal dan mencerdaskannya dalam agama atau dalam mencari Tuhan?” ia menanyakan hal itu karena dalam dialog tadi, ketika ditanya mengenai apakah Tuhan ada dan Esa, ia perhatikan, gurunya hanya berdalil dengan al-Qur’an. Maka dari itu ketika dikejar, al-Qur’an pun, akhirnya, tak dapat dipertahankan sebagaimana Anda ketahui tadi.
“Ada, bahkan banyak (jawab gurunya). Misalnya ada yang mengatakan bahwa sebenarnya kalau engkau menggunakan akal maka akan mengerti kebenaran ada-Nya; Allah akan tunjukkan bukti kebenaran-Nya pada kita melalui alam ciptaan-Nya dan dari diri kita sendiri; Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi dan seisinya adalah bukti-bukti bagi orang yang berilmu. Bahkan dikatakan dalam suatu ayat yang mengecam orang-orang bodoh, seperti, “Sesungguhnya kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya (bodoh)”.
“Guru! (tanya sang murid lagi). Lalu mengapa guru katakan bahwa dalam Islam tidak boleh menggunakan akal dalam agama, khususnya dalam mengenal-Nya?”
“Itulah yang sedang kupikirkan. Dulu guruku dalam hal-hal tertentu menggunakan akal dan mencemooh orang yang tidak menggunakannya. Akan tetapi dalam bab-bab lain, misalnya ke-Esaan-Nya, al-Qur’an makhluk apa bukan, perjumpaan kita dengan-Nya di surga, rukun Iman ke-6, mukjizat merusak tatanan sunnah Allah apa tidak, orang shaleh bisa saja dimasukkan Allah ke neraka kalau ia berkehendak, dan lain-lain, guruku tidak mau menerima uraian golongan lain yang menggunakan akal di samping al-Qur’an. Guruku mengatakan bahwa agama tidak bisa di akal-akali. Berapa banyak perbedaan di antara kaum muslimin. Barangkali inilah yang dimaksud Nabi dengan perpecahan 73 golongan itu. Yah... (desah sang guru sambil menatap kejauhan yang seakan tak berbatas) yang mana yang benar, susah sekali mencarinya.”
“Guru! (kata sang murid lagi), masihkah ada perbedaan seAndainya kita kembali ke al-Qur’an dan hadits, sebagaimana yang diamalkan di pesantren guru?”
“Oh... ada, masih ada,” jawab sang guru dengan serta merta.
“Barangkali hanya furu’ guru?” sang murid melanjutkan pertanyaannya.
“Ah... tidak. Tidak muridku (jawab sang guru). Bahkan sampai ke’ syirik-mensyirikkan. Hal mana syirik adalah dosa yang paling besar dan menyangkut masalah keimanan. Dan walaupun sebagiannya adalah masalah furu’, akan tetapi kalau sudah sampai bid’ah-membid’ahkan, ini adalah masalah besar. Sebab setiap bid’ah adalah dhalalah, dan setiap dhalalah tempatnya di neraka. Jadi, shalat orang yang ada bid’ahnya, menurut yang membid’ahkan, bukan hanya shalatnya tidak diterima, akan tetapi bahkan menyebabkan mereka masuk neraka.”
“Guru! (lanjut sang murid), dulu guru pernah berkata bahwa di pesantren guru adalah termasuk golongan yang. kembali ke al-Qur’an dan hadits secara murni. Masihkah di sana ada perbedaan pendapat dalam agama, guru?”
“Wah... banyak, banyak sekali (jawab sang guru), kami hanya bersepakat dalam masalah bid’ah, khurafat, tahyul dan masalah-masalah kesyirikan. Akan tetapi dalam masalah ekonomi, sosial, politik dan lain-lain kami mempunyai setumpuk perbedaan.”
“Tapi itu kan tidak termasuk haram-mengharamkan guru,” kata sang murid.
“Wah... siapa bilang (sergah si guru). Misalnya masalah bunga. Kita berbeda pendapat mengenainya. Ada yang tetap mengharamkan walaupun bunganya untuk kepentingan umum dan ada yang tidak. Atau katakanlah pada sebagian yang lain tidak dengan kata haram-mengharamkan. Akan tetapi seringkali kita dengar, misalnya, kurang Islami, dalam keadaan begini, Islam tidak boleh begini atau begitu, yang itu salah yang ini benar dan lain-lain, yang kata-kata itu acapkali saling kita lemparkan di antara sesama kita.”
“Kok bisa begitu guru?” kata salah seorang murid yang sejak tadi bengong saja. “Bukankah mereka sudah kembali ke al-Qur’an dan hadits?” lanjutnya.
“Yah... sekarang aku baru sadar (kata sang guru), sejak perdebatanku dengan Zaranggi tadi, aku mulai mengerti bahwa al-Qur’an dan hadits yang dipakai adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang kita pahami. Bukankah jelas sekali bahwa al-Qur’an dan hadits yang kita pahami belum tentu benar? Seandainya kita kembali ke al-Qur’an atau hadits, tapi yang benar-benar sesuai dengan keduanya, maka dapat dipastikan bahwa kita tidak akan bercerai-berai seperti sekarang ini. Karena di dalam al-Qur’an tidak terdapat kontradiksi sehingga bisa menimbulkan perpecahan ini.”
“Guru! (salah seorang dari mereka menyambung), apakah mungkin al-Qur’an dapat dipahami sebenar-benarnya, sehingga kalau kita kembali kepadanya pasti tidak akan bercerai-berai?”
“Itulah salah satu yang akan saya cari jawabannya. Sebab, saya sekarang memahami, dari kejadian tadi, bahwa karena mengingat agama Islam ini adalah agama akhir zaman, dan ia diturunkan untuk dijadikan pedoman, maka sesungguhnya mestilah al-Qur’an ini dapat dipahami sebenar-benar pemahaman.”
“Guru! (kata salah seorang muridnya yang lain), dulu guru pernah mengatakan bahwa Qur’an itu mengandung ayat-ayat yang jelas dan mutasyabihat. Sedang yang mutasyabihat (samar) tidak diketahui takwilnya kecuali Allah?” (Q.S. Ali Imran: 7).
“Yah... dulu memang demikian (jawab sang guru). Tapi sekarang tidak lagi. Sebab, kalau al-Qur’an, walau sebagiannya, tidak dipahami kecuali Allah, maka buat apa al-Qur’an diturunkan untuk manusia? Bukankah al-Qur’an ini diturunkan supaya manusia mengambil petunjuk daripadanya? Nah, kalau sebagian ayatnya yang mutasyabihat tadi tidak dapat dipahami, lalu buat apa ayat itu diturunkan?”
“Maaf guru! (lanjut sang murid tadi), bukankah dengan mengatakan demikian berarti guru telah keluar dari makna ayat tadi, karena di ayat itu, untuk ayat-ayat yang mutasyabihat dikatakan bahwa, ‘...tidak ada yang tahu takwilnya kecuali Allah’?”
“Muridku (jawab sang guru dengan bijaksana) al-Qur’an itu ada titik komanya. Kaum muslimin berbeda pendapat dalam meletakkan koma pada ayat itu. Dan dulu aku meletakkan seperti yang engkau katakan itu. Akan tetapi, sekarang, setelah dialog tadi, dan karena alasan-alasan tadi, yaitu al-Qur’an diturunkan untuk diikuti yang mana sudah tentu harus dipahami terlebih dahulu, maka saya yakin bahwa koma pada ayat itu tidak terletak setelah Allah. Dan makna ayat itu sedikit berubah. Coba perhatikan! (katanya). Kalau komanya setelah Allah, maka ayat itu akan menjadi ‘...tidaklah ada yang tahu takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang berpengetahuan mengatakan bahwa; semua dari Allah’. Akan tetapi kalau komanya diletakkan setelah orang-orang yang berpengetahuan, akan menjadi sebagai berikut, ‘...tidaklah ada yang tahu takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang berpengetahuan, yang mana mereka mengatakan semua dari Allah’. Sekarang aku yakin (tambahnya), bahwa peletakan koma yang kedua itulah yang benar.”
“Lalu, (kata sang murid seterusnya) siapakah orang-orang yang berpengetahuan atau al-rasyikhun itu guru?”
“Itulah yang harus saya selidiki. Dan saya rasa dalam hadits akan dapat dijumpai,” jawab sang guru dengan penuh harap.
“Guru! (lanjut sang murid), barangkali perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Sebab, dulu guru pernah membacakan sebuah hadits pada kami bahwa Nabi pernah bersabda: Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat.”
“Wah... itu dulu (kata sang guru) sekarang kita harus pikirkan lagi tentang hadits itu. Apakah hadits itu shahih atau tidak, atau bahkan mengandung makna yang lain”.
“Kenapa begitu guru?” si bengong terus bertanya dan semakin penasaran.”
“Muridku! (kata sang guru) apakah mungkin dikatakan sebagai suatu rahmat kalau segolongan dengan segolongan yang lain saling mensyirikkan, membid’ahkan, menyesatkan, mentidakIslamikan, menyalahkan dan sebagainya? Apakah agama yang satu dan suci mengandung hal-hal semacam itu? Tidak, tentu tidak, agama Islam hanya satu suara. Kalau haram ya haram, kalau bid’ah ya bid’ah dan seterusnya. Agama Islam tidak akan suci lagi kalau dinodai semacam tadi, apalagi di banggakan dengan kata-kata rahmat tadi.”
“Guru! (kata sang murid), apakah mungkin Islam satu suara dan kaum muslimin menyuarakannya?”
“Bukan mungkin lagi (kata sang guru) tapi bahkan mesti. Dan bagi saya tak perduli orang-orang, baik kafir atau muslim, mengikutinya atau tidak.”
“Lalu, bagaimana caranya guru?” tanyanya lagi.
“Saya pikir, sebagai langkah pertama, kita harus cari siapa yang dimaksud dengan ‘Orang-orang yang berpengetahuan’ dalam ayat tadi,” jawab sang guru dengan mantap. Tapi pada wajahnya yang sudah mulai keriput itu nampak bahwa ia dalam keadaan sedih dan cemas. Yah... cemas karena takut tidak dapat menemukan yang akan ia cari itu.
Begitulah, pada pagi hari pada beberapa hari setelah dialog dengan Zaranggi, sang guru atau sang tokoh kita ini disertai murid-muridnya pergi meninggalkan kota Hamadan. Padang pasir panas dan ganas yang terbentang luas di hadapan mereka tidak menjadi penghalang bagi kepergian mereka. Yah...mereka pergi untuk mencari, mencari dan mencari, sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka dari gurun akhirat (mahsyar) yang jauh lebih panas dan menyeramkan. Di hari yang pada hari itu tidak lagi kita dapat memperbaiki kekeliruan kita seperti tokoh kita ini.[]
[Sumber: Rasionalisme dan Alam Pemikiran Filsafat dalam Islam. Hasan Abu Ammar. Penerbit Yayasan Mula Shadra]